my story

Segelintir story about me, yang mau di-sharring sedikit tentang pasang surut kehidupan yang telah diarungin. Warna-warni yang telah menghiasi jalan-jalan takdir kehidupan.
Perjalanan yang dimulai dari saya menginjakan kehidupan di sebuah sekolah dasar (SD), yang tumbuh menjadi seorang anak yang hyperaktif, tetapi semua kekonyolan yang di alamin di sana, lebih mempunyai nilai apresiasi yang lebih. Enam tahun telah berlalu, tibalah saat pemilihan JHS, sebuah pilihan yang rasa saya ambil sebagai seorang yang awam, memilih salah satu JHS yang bersebrangan dengan gedung kuning(tadinya).
Tidak dikira nilai yang saya dapatkan cukup memuaskan dan mendapatkan peringkat 5 dari test masuk trsbt, melihat hasil trsbt, saya pun mau direkomendasikan untuk hijrah ke tetangga sebelah, oleh guru saya, pak Ahmad, guru agama, yah walaupun di tetangga sebelah ada teman sekelas saya yang satu-satunya masuk situ, tetapi saya lebih memilih apa yang telah saya lakukan dan putuskan.
Yap ! tiba lah saat memasuki jenjang junior high school education. Yah..walaupun belum bisa memikirkan ke mana arah hidup pribadi, akan mengarah. Cukup berkesan kenangan-kenangan di sana, untuk mulai sedikit sadar ke mana arah potensi yang bersemayam berada.
Huh..! kalau diinget lagi geli rasanya untuk telling story about masa-masa di sana.
Kelas 1,
masa adaptasi tanpa obsesi dan ambisi, cuman bisa berharap mendapatkan teman yang sepaham dan sehati.
Hah !..pengalaman kelas 1 mulai dari yang tiap pagi sering olahraga (alhamdulillah), lari-lari di lapangan karena yang ga pernah bisa lepas dari virus telat terlambat sp, jam karet yang ga bisa on time maupun in time, dapet sohib yang games lover, ga olahraga di SMEA maupun di GOR, malah cabutnya ke EPC, dipalakin di Agraria dan hangout-nya di musholah pula (masyallah).
Kelas 2,
Yah, saat disitulah masa-masa jaya sriwijaya, karena system random class yang berlaku di habitat belajar saya, yang menyebabkan simbiosis baru, sebelum jaya di kelas 2, sempet yang namanya salah masuk kelas yang udah 2 hari stay di kelas yang salah, Arrghh…!! Malu rasanya, dan setelah melacak kelas aslinya di mana, sempat juga dikira siswa yang tidak naik kelas, setelah tidak tecantumnya nama Micki Chrisandi di list absensi (Bete abis Argghh..). Dan lebih malu lagi saat-saat kembali ke habitat asli study, yaitu, pada saat pertengahan jam pelajaran, laksana seorang presiden atau tokoh penting yang berpengaruh di dunia,
saya pun mendapatkan sambutan yang meriah di sertai gelak tawa dan sorakan, saat memasuki kelas maupun saat introgasi.
Kawaeso ne !!
Guru yang memberikan andil besar dalam belajar, khususnya guru matematika, sang bule kampung ti sunda yang selalu menunjuk saya untuk mendapat kepercayaan menjadi ketua kelompok di kelas, dan guru B.Indonesia, sang guru teladan, yang memiliki karisma yang memancar bak matahari yang tanpa henti menyinari bumi.
Di kelas 2,
akhirnya karakter aura individualis pun memancar, tabi’at pelit suka berkelit dalam pelajaran, baik dalam ulangan maupun dalam belajar. Seperti penganut paham, “pinter untuk sendiri dan bodoh juga untuk sendiri”. Yang dulu menjadi trademark dalam hidup saya, terkesan agak sedikit individualis lah.
Seperti pengalaman saya di SMA dulu saat akhir semester.
efek tabia’at suka berkelit on my job, finally, owner always bad than costumer, coz membludaknya job yang sudah overload dengan deadline tiga hari saya harus menyelesaikan 8 makalah B.Inggris sekaligus, kinds of text like narration, spoof, anecdote and many more, belum lagi ditranslatin…Huh ! I thing it was crazy.
Wah ! bisa dibilang rugi Bandar walaupun saya bisa menyelesaikan all my job, ga hanya itu saja tapi juga waktu, ide, tenaga, dan tekor pula, coz bayar udah pada kaga bener deh, all make me suck !
But it was cool…Hehe
Di kelas 2-lah saya sudah mulai merasa terobsesi dan ambisi. Satu hal yang belum bisa saya standardkan dalam B.inggris di kelas. Seorang teman yang memiliki talenta yang hebat dalam pelajaran itu. Achkbar itulah namanya, seorang pindahan dari Qatar yang untuk sementara hijrah di sini. B.inggrisnya yang yahud dan sebenarnya lugu orangnya, tapi sayang ia mendapatkan teman yang urakan di sana. Dan satu lagi, seorang teman perempuan yang selalu menjadi saingan dalam memperebutkan tempat pertama di kelas. Bak petasan mercon yang kalau sudah berdebat tidak mau kalah. Karakter yang cerewet dan talenta. Dan juga hafal surat Al-fatihah, secara dia noni. Gila..tu orang !!, dialah yang suka menyarangkan gondok di leher saya, ingin rasanya mendoktrin dia tentang islam, mencekokin dia tentang hal yang ortodoks dan meng-influence-nya dengan hal yang sacral.
Tapi ga tahu, gimana nasib mereka semua sekarang ini, kabarnya Achbar kembali ke asalnya setelah SMP, yang pasti semua lebih baik dari saya sekarang.
lalu pengalaman lainya di JHS, kepilihnya saya di team untuk ikut kompetisi futsal di BBS, membuat saya senang bukan kepalang, tapi laksana bunga mawar yang indah tapi berduri tajam, bak seorang patung di tiap pertandingan yang menghiasi bangku cadangan. menjadi camat, sambil dugem bak seorang pengamat.
Ala’mak tragis pula awak ini.(T¬_T’).
Belum lagi saya, yang suka meng-objek-an tugas-tugas di tiap-tiap semester atau tugas remedial teman saya. Dengan bermodalkan otak, tumbuhlah karakter materialistik saya, memberikan jasa tergantung seberapa kesulitan tugas yang akan saya terima. Saya terima barang maupun jasa. Hehe…gila banget.
Di kelas 2 saya pun mendapatkan teman baru, yaitu Dendi, seorang atlit bulutangkis, pindahan dari 5. Pengalaman yang menarik bersama dia adalah saat akhir semester, para orangtua atau murid-murid yang biasanya memberikan bingkisan atau ucapan terimakasih kepada gurunya.
saat dia disuruh untuk menyampaikan amplop dari orangtuanya, untuk wali kelasnya,
tapi gilanya bukan kepalang, amplop yang berada ditangannya itu ia sunat. Ehm..sebagai tutup mulut, akhirnya, Texas pun menjadi tempat mulut saya dieksekusi. Dia telah membuat sang pengolah makanan tak berkutik kekenyangan (masyallah), koruptor cilik.
Setelah meningkat di kelas 3, ga ada rasanya motivasi, ambisi maupun obsesi bagaimana kedepannya. Dibiarkan begitu saja mengalir tanpa ada kemudi atau pun pilihan hati.
Tibalah masa-masa si putih abu-abu, dengan segelintir cerita yang serta merta menorehkan catatan kenangan yang tertata, laksana sebuah cerpen yang hanya habis dibaca dalam sekali duduk. Eksistensi pun hanya diberikan kepada segelintir orang saja yang memberikan sebuah makna paradigma.
Kelas 1.
Diawali dengan berbagai macam pristiwa yang heterogen, mengenyampingkan dan menyembunyikan karakter yang telah dibangun di sekolah dulu. Mengamati serta mencoba kembali beradaptasi. Memakai topeng keluguan tanpa dosa tak bersalah, memberikan asumsi yang positif dengan sedikit tindakan pasif tapi terkesan aktif.
Sama seperti halnya di sekolah dulu, mendapatkan sahabat yang ga jauh dari yang namanya musholah atau pun game center, tapi jauh dari yang namanya membuat komitmen relationship dengan lawannya. Salah satunya saya. Karakter yang tetap melekat dalam diri pribadi yaitu rasa tidak confidence dan sedikit paranoid, yang di mana karakter itu saling melengkapi satu sama lain, memberikan efek yang lumrah pada anatomi tubuh, adrenalin yang memacu cepat detak jantung dan kelainan tingkah laku serta mengalirnya keringat dingin yang membawa hormon serta antek-anteknya yang membuat metabolisme dalam tubuh menjadi tak tentu arah, kadar CHCOOH- tubuh yang meningkat meluap-luap. Serta menyebabkan kestabilan mental tubuh yang mengalami gerak jatuh bebas tanpa adanya elastisitas yang pas yang diubah bak larutan koligatif menjadi sebuah koloid yang disertai unsur alkali yang reaktif yang mudah berikatan membentuk ion-ion atau molekul-molekul seperti halnya dalam bersosialisasi yang memiliki arti tanpa me-restart ataupun men-shut down dan menyimpan semua file-file kenangan tersebuat dalam hard disk otak kita.
If I asked about special of’em in my life
May be you known what would I say
Oh God damn it..! she freak me out
Cause I think she too special for me
Just like looser underdog lay under town
Cause she up town girl and I just the shy boy
I’m just ordinary people not ex. Dude
The last shut the fucked your mouth
The time such something not back past again
Are we we are..are we we are the waiting on me
Just I’m walk’lone on the earth
The only one that I have ever know
And all about fucking fact in there
Gelar “tersipu” pun akhirnya disematkan pada saya, dan sering kali menjadi bulan–bulanan di kelas dengan tampang memelas, belajar di kelas pun terasa tidak bebas rasanya malas. Ingin rasanya karakter itu terlepas, tapi apa daya, saya hanya dapat menghela napas.
Kadang-kadang nama pun menjadi suatu masalah, ada saja orang yang salah memaknai arti nama saya, mungkin karena cara penulisan nama saya terkesan agak sedikit western mengandung makna zionis la kapitalis non libertadoris yang pastinya ga bisa saya ceritakan sampai habis, Yah walaupun masih ga jelas endingnya bakalan manis, tapi saya masih tetap optomis. Ganbatte ne O shimashou !
Conservation media’s club
Haha…konnichiwa mina san ! aneh in ajaib but not real, nah ini suatu peristiwa yang emang kudu wajib saya renungin banget deh, Loh kok bisa ? Ok, mari kita flash back kembali, peristiwa yang membuat jantung saya hampir eksplosing kencang laksana lonceng yang berdentum-dentum, bak bom atom yang kembali diledakan di kota Hiroshima dan Nagasaki
bersambung....


Komentar
Posting Komentar