Di Atas Waktu Ku Menanti

                                                                         

Kadang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, seperti kita coba menebak kotak kado dengan isi yang tak kasat mata, hanya dapat menebak dan berandai-andai. Di atas waktu aku menanti. Di selembar kertas aku menulis. Di atas pohon aku tancapkan poros mata. Kaki yang menggontai jatuh. Tak sedikit pun aku berkedip. Menanti mu datang membawa sepotong cintaku yang kau bawa. Andai angin dapat membisikan sepenggal berita. Menggetarkan gendang  telinga. Berbisik kepadaku. Tunggulah adinda,  kelak ananda akan membawa cinta kita ke ujung asa samudera bersama bahtera yang kita bangun, bukan dari materi atau kefanaan, melainkan kita bangun di atas dasar  kekuatan cinta, kesabaran cinta dan kemurnian cinta, tidak hanya separuh melainkan aku membawa seutuh hati ku di kapal kita nanti. Mulai ku memandang langit. Merasakan hilir angin yang mengusap wajahku. Ku pejamkan mataku sejenak dan tersenyum. Berkata. Kau tahu pena, kenapa kau tak ku gunakan selama ini tuk menggoreskan isi hatiku. Menahan rindu yang amat sangat. Karena  dirimu tak akan sanggup tuk menggambarkan isi hatiku, kau pernah mendengar betapa dalamnya hati seorang wanita,  betapa luas ruang hatinya, tapi ia selalu menyiapkan ruang tuk teman hatinya, ya pena, ruang yang tak satu pun orang dapat menemukannya, melainkan sang wanita sendiri yang rela memberikan ruang itu untuk seseorang, dan itu tidak mudah. Mungkin ia dapat memberikan luas hatinya kepada siapa saja, tapi hanya satu yang mampu ia tempatkan di ruang  khusus itu, tidak perlu besar atau luas tapi cukup untuk ia dan seutuh hatinya. Hati wanita itu memiliki rumus yang paling rumit untuk di mengerti. Paling susah untuk di pelajari. Dan paling sulit untuk di sentuh. Kau bahkan tidak bisa untuk menariknya terus atau mencoba mengulurnya terus. Ketika ia menangis karena mu, kau telah menyentuhnya. Ketika kau menangis untuknya maka kau tulus mencintainya. Merasakan hangat dan nyaman di dekatnya walaupun ia bukan perapian unggun. Merasakan getaran di dekatnya walaupun tak ada kawanan rusa yang sedang berlari, kadang kau bingung, jantungmu bergetar melebihi irama detak jam yang berdentum ketika mendengar namanya atau melihatnya. Kau tahu cinta. Ya, itulah cinta. Seseorang yang telah lama di simpan untuk mu. Menunggu ketika kau bimbang  dan gusar. Ia datang dengan tiba-tiba yang tak kau sadari. Karena di atas waktu aku menantimu.


Udara sejuk. Kicauan burung. Sinar matahari yang mengintip lewat celah dedaunan dengan di temani pepohonan rindang di kelilingi perbukitan. Hampir tak terasa sudah dua jam aku menikmati suasana ini. Bersandarku pada pohon. Kertas yang ku dekap sejak tadi tak ku gunakan sama sekali. Bukan berarti ia tak berguna. Karena kini ia ku ubah sebagai teman dalam kesendirian ku. Aku tak sendiri, benda dan alam ini telah menemaniku. Mereka jauh lebih berarti ketika menjadi pendengar ku sekarang. Menemaniku dalam memaknai arti hidup dan cinta yang ku punya saat ini. Hai kertas, tahu kah dirimu betapa bergunanya dirimu untuk orang banyak. Kau telah mencipakan sastrawan dan master piece lewat dirimu. Dirimu dapat berharga di tangan yang tepat, tapi kadang dirimu disia-siakan. Seputih warnamu seperti seputihnya wanita yang terhormat yang selalu terjaga diri serta hatinya. Wanita seperti kertas. Orang yang mencintaimu akan menjaga dan memperlakukanmu dengan penuh hormat. Kertas yang putih akan diperlakukan hati-hati oleh pemiliknya karena ia tahu kertas lah yang menyimpan karya-karya terindahnya. Begitu pun wanita, ia akan dihormati dan dihargai oleh orang  yang  mencintainya. Aku ingin menjadi seperti mu saat ini. Apa yang aku rasakan telah aku simpan di ruang hatiku yang luas. Ia tak akan robek atau lusuh termakan waktu. Kini, ia menjadi spirit dalam keyakinan cintaku. Aku bahkan kelak tak akan menyalahkan cinta. Karena cinta tak pernah salah, hanya saja kita yang salah dalam memaknai arti cinta yang sesungguhnya. Cinta yang hakiki. Cinta yang terpelihara dengan kasih sayang. Cinta yang dipersatukan dengan kesakralan dan keikhlasan. Tidak hanya raga melainkan mata ini yang selalu dapat  melihat dia di mana pun, telinga yang dapat mendengar detak cinta. Dan terakhir kau tempatkan ia di ruang khususmu. Maka kau pun tak pernah sendiri karna ia telah memberikan seutuh hatinya untuk mu. Karena di atas waktu ku menantimu.


Lelaki itu datang. Memberikan senyuman yang terbaik yang ia miliki. Ia menghampirku. Menatap dengan penuh rasa rindu yang terpendam selama ini. Menarik tangan ku dan menaruh didadanya. Berkata. Apakah kau merasakannya adinda. Ia menekan perlahan tangan ku ke dadanya. Mengencangkan genggamannya. Aku dapat merasakan dengusan nafasnya yang tidak beraturan. Detakan jantungnya yang berdetak kencang. Dengan senyum yang masih menghiasi di wajahnya. Lalu ia berkata kembali. Apa yang kau rasakan adinda. Katakanlah. Ku buka mulut ku dan berujar. Rindu. Rindu akan cintanya. Rindu akan diriku. Ya, dinda, aku memang  tidak ada tapi aku selalu ada di dalam hatimu. Di ruang hatimu.  Seseorang yang tidak harus ada tapi ia selalu ada. Maka kau buat seseorang itu harus ada. Bukankah cinta itu rumit. Ya, cinta memang rumit tapi kau dapat menyederhanakan cinta itu ketika aku mencintaimu dan kamu mencintaiku. Tidak cukup hanya dengan cinta tapi harus dilandasi rasa menghormati dan menghargai satu sama lain. Maka kau dapat mengubah cinta yang rumit menjadi cinta yang sederhana. Kau mencintai tapi kau tidak mungkin menyakiti. Kau menyakiti maka kau tidak mencintai seutuh hatinya selama ini. Itu bukan cinta, dinda. Apakah kelak kau akan menyakitiku kanda. Meninggalkan ku dengan semua harapan dan untaikan teori yang kau sampaikan selama ini. Tentang cinta dan kita. Tidak, dinda. Seorang pria yang menaruh keyakinannya serta menaruh seutuh hatinya dalam cinta dan doa, tak akan menodai sucinya cebuah cinta yang sudah terpelihara. Cinta itu jika bibitnya kau siram dengan baik maka kelak ia akan tumbuh dengan kuat dan memiliki akar yang dapat menopangmu dalam badai nanti. Karena ia sudah terpelihara dengan baik. Tertunduk. Air mata yang  tak kuasa tertahan, jatuh di bumi cinta ini. Ia benar-benar mencintaiku. Menyentuh ruang hatiku. Tulus mencintaiku dengan sejuta teori yang ia miliki. Tangannya mengangkat daguku yang tertunduk. Mengusap air mata yang menelusuri pipiku perlahan. Lalu tersenyum. Kita tidak abadi adinda. Keabadian hanya milik-Nya.  Cinta yang hakiki pun hanya pada-Nya. Tapi cinta yang kita miliki mampu membuat sang pemiliknya bertahan. Ya, dinda. Benih cinta yang kita pelihara bersama akan mampu bertahan lama jika kita bersama memeliharanya. Ia tak akan dapat tumbuh lama jika hanya salah satu dari kita saja yang memeliharanya. Ia butuh kebersamaan. Ia butuh keyakinan. Ia butuh kasih sayang untuk menjaganya tetap mekar. Tapi kanda bagaimana  dengan sebuah pilihan. Pilihan yang sulit bagi semua orang. Orang tua atau seutuh hatimu. Bagaimana kau menghadapinya jika ini terjadi kelak pada kita.  Sudah banyak orang yang meninggalkan separuh hatinya karena alasan itu. Ya, orang tua. Rela menghancurkan apa yang telah di bangun dan di pelihara.  Memberikan sejuta alasan yang dikemukakan oleh orang tua.  Tunggu, dinda. Apakah kau tahu. Cinta itu punya jalannya sendiri. Ia tidak akan tersesat atau salah dalam menemukan pasangannya. Karena orang tua yang baik akan memberikan sepenuhnya pilihan kepada anaknya. Karena kelak bukan mereka yang menjalaninya tapi anaknya. Beliau hanya memberikan nasehat, mengantarnya di jalan pernikahannya nanti. Bukan seberapa cepat kau menikah, tapi seberapa lama kau dapat mempertahankan pernikahan. Bukan hanya rumah tangga. Kelak kau bangun hingga menjadi kerajaan.  Kata-katanya selalu menyejukan hati bersamaan halusnya hembusan angin yang menyertai kata-katanya. Pria ini selalu dapat membuatku bergetar. Menggapai dasar hatiku. Menyentuhnya. Menanamkan keyakinan dan menyiram cintanya padaku. Bersamaan dangan itu kami pun pergi dengan langkah cinta. Untuk kembali pulang. Karena di atas waktu aku menantimu.


Kini pagi menyambut ku dengan penuh harapan, tanpa kegundahan, kecemasan, dan ketidakyakinan ku akan cinta yang hakiki. Ku buka jendela yang sudah di sambut dengan sinar mentari yang merangsak masuk ke dalam kamarku. Udara hangat nan menyejukan tubuh dan ruang ini. Hiruk pikuk aktivitas meramaikan pagi di bawah sana. Ku sandarkan kepala ku di tepian jendela, memandang jauh akan hal yang ku tangkap. Cinta. Dulu ku berpikir bahwa pangeran itu hanya ada di sebuah dongeng. Dengan wajah mempesona, putra mahkota, kesatria berhati lembut, serta menunggang seekor kuda. Tapi semua itu hanya dongeng. Ya, hanya dongeng. Karena tidak ada satu orang pun yang sempurna di dunia ini. Kita tidak mencari seorang yang sempurna, tapi kita membuat seseorng itu menjadi sempurna di mata kita. Dengan kelebihan dan kekurangannya. Kita di ciptakan berpasangan karena untuk mengisi satu sama lain, melengkapi satu sama lain. Bukan mencari seseorang yang berkualitas. Tapi membuat orang yang ada menjadi lebih berkualitas, terus melengkapi dan memperbaiki diri.


Di depan beranda ku melihat ibu. Menatap tenang pada sebuah rajutan yang sedang dikerjakannya secara perlahan. Ya, beliau memang sangat sabar dan telaten dalam melakukan suatu pekerjaan yang dilakukannya sendiri di usia senja. Ku menghampiri beliau yang sedang duduk di sebuah kursi tua yang ia sayangi. Aku tak tahu mengapa tidak ia ganti kursi itu dengan yang lebih bagus dan baru saja. Lantas melemparkan senyum kepadaku. Menatap tenang matanya, lalu berkata. Bu, aku ingin bertanya. Dengan senyum yang hangat dan berkata. Apa yang ingin kau tanyakan, sayang? Bu, apa itu cinta yang sesungguhnya. Apakah cinta itu, Bu. Beliau terhenyak sejenak dan tersenyum. Sayang, kau ingin tahu apa cinta itu. Cinta yang sejati. Cinta yang tak terdefinisi oleh kata-kata. Sekalipun kata-kata itu di buat oleh seorang sastrawan dan pujangga hebat di dunia ini. Aku mulai antusias dengan apa yang terucap. Iya bu, aku tidak ingin salah dalam mengenal cinta. Apakah sama halnya dengan cinta ibu terhadap ayah, atau sebaliknya. Tidak anakku, setiap orang memiliki arti cinta masing-masing. Mereka memiliki cara dalam menafsirkan sebuah cinta. Cinta itu sangat luas. Kau tahu, mengapa ibu tidak membuang atau mencampakan kursi yang sedang ibu duduki ini. Bukankah ini terlihat sangat tidak bagus dan tidak nyaman pada kelihatannya. Aku menggeleng. Lantas ibu kembali tersenyum. Ibu selalu merasa nyaman dengan kursi tua dan usang ini. Karena ini mengingatkan ibu dengan mendiang nenekmu. Karena di kursi ini lah kenangan masa kecil ibu. Di mana ibu selalu di timang di pangkuan beliau, di sayang dan dimanjanya. Begitu pun yang ibu lakukan padu mu sayang, ibu menimangmu sewaktu kecil. Sama hal yang nenekmu lakukan pada ibu dulu. Itulah sebabnya ibu tidak ingin membuat kursi ini. Menghargai dan menghormati apa yang sudah terjalin dalam hati. Cinta adalah menghormati. Cinta adalah menghargai. Cinta adalah rasa nyaman yang membuat hati kita menjadi tenang. Ya, sayang itulah yang di sebut sebagai cinta yang hakiki. Cinta seorang ibu kepada anaknya. Lain lagi dengan mendiang ayahanda mu, sayang. Cinta ibu kepada laki-laki itu adalah perasaan baru yang mengisi ruang hati ibu setelah orang tua. Karena kita selalu di ciptakan berpasangan. Seperti hati yang telah di lengkapi oleh seseorang. Kita menempatkan dia bersama di ruang hati kita, tapi orang tua kita tempatkan di atas ruang hati kita. Jauh lebih tinggi. Jadi cinta itu hanya bagaimana kita menempatkan seseorang itu di dalam hati kita. Mau kita tempatkan lebih tinggi atau sama dengan hati kita. Yang ibu ingat dari ayahmu adalah beliau tidak pernah memarahi ibu sekali pun, ia tidak ingin membuat ibu merasa susah, tapi ibulah yang menemaninya jikalau beliau dalam keadaan susah. Bukankan di balik pria yang kuat terdapat wanita yang kuat, bukankan di balik pria yang sukses terdapat wanita yang mensukseskannya. Yah sayang, inilah kehidupan. Kehidupan yang akan membawamu pada perjalanan yang sangat menegangkan tapi mengasikan. Yang dapat kau lakukan adalah bagaimana kau menyikapi dan menikmati perjalanan ini. Beliau pun tersenyum. Terima kasih bunda. Pelukan hangat menerjang tubuh ku kini. Karena di atas waktu aku menantimu.



Siang ini aku akan pergi ke pemakaman ayah. Berjiarah dan mengingat kembali akan apa yang telah beliau lakukan pada kami. Aku dan ibu. 

Bersambung to Novel

Komentar

Postingan Populer