Bagai Mendayuh Ku Tak Bertepi
[Di adopsi dari kisah nyata seorang sahabat]
M
|
asa sekolah memang masa yang paling indah bagi kita. Mereka
yang merasakan indahnya masa-masa sekolah tak akan pernah lupa dengan semua
kenangan. Persahabatan, kenakalan dan pastinya lika-liku cinta.
Masa si putih abu-abu adalah masa-masa yang paling indah
bagi sebagian orang. Karena disanalah kamu dapat menemukan berbagai macam
pengalaman yang tak akan terlupakan. Masa di mana kita mencari jati diri. Masa
di mana kita melakukan berbagai macam kenakalan. Masa di mana kita merasakan
suatu persahabatan yang berkesan. Dan masa di mana kita harus berjuang dalam
menghadapi ujian nasional kembali. Dan satu hal terindah dari masa si putih-abu-abu itu adalah masa di mana kita
mengenal yang namanya cinta.
Tapi tahukan kau tentang apa yang telah ku temukan. Ini
adalah sebuah kisah cinta seorang sahabat menjadi cinta layaknya sang pujangga.
Cinta yang terlahir dari persahabatan. Cinta yang tumbuh dari kenyamanan dan
kebiasaan. Cinta yang terus di taburi
dengan pupuk kebahagiaan dan kenyamanan. Memberikan manisnya cinta di kala
tumbuh dan mekar. Aroma manis tentang cinta. Dihujani tetesan zat dari langit
yang jatuh ke bumi yang bernama cinta. Cinta itu kadang kurang sopan. Dia
datang sesukanya. Dan dia pergi meninggalkan segores luka. Atau cinta itu bak
durian yang menggambarkan kuatnya aroma dan manisnya rasa tapi ada duri di
balik kenikmatan itu. Kau bahkan bisa terluka oleh duri dari rasa yang kau
pendam. Ah, tapi persetan dengan itu semua sekali pun kau terluka dengan duri
itu maka semakin kuat kau bertekad untuk mendapatkannya. Kita bahkan tak bisa
tuk memprediksinya sama sekali. Di mana dan untuk siapa cinta itu. Dewa-dewi
langit pun harus di buat bingung dengan hal ini. Topik yang selalu menjadi
romantisme bagi para pemabuk cinta. Sibuk akan ombak yang selalu menghempaskan
bahtera cintanya dilautan kehidupan.
Bagi Shanaz cinta adalah anugerah. Cinta adalah bagaimana
kau mendapatkan kenyamanan dan kebahagiaan. Bahkan jikalau cinta itu membuatnya
gila. Dia sudi tuk memperjuangkannya. Tak hanya perbedaan jalan kehidupan yang
di alami. Tapi adat, ras, persahabatan bahkan pedoman hidup(agama) sekali pun
sudah tak dihiraukannya lagi. Persetan dengan itu semua. Sekali pun ada gunung
yang tinggi dan lebar dihadapannya. Maka cintanya selalu melebihi besarnya apa
yang didepannya. Tapi problematika cinta yang kian kusut menggulung dirinya.
Bak karang yang di terjang ombak terus menerus. Apa yang dia lakukan? Diam,
layaknya sang batu karang dipinggiran lautan. Tergerus terus menerus. Tidak,
Kau salah. Dia maju. Terbang bak burung yang melesat di tengah badai tuk
mencari belahan jiwanya.
Wanita yang tumbuh dengan cantik dan ceria kini duduk termenung
di depan jendela kamarnya. Menopang pipinya dengan sebelah tangan yang disenderkan
pada bingkai jendela. Hujan yang jatuh dari langit bersamaan dengan jatuhnya
air mata dan harapan cinta. Mengingat kembali setiap moment yang terlewati.
Sepotong demi potong dia kumpulkan kenangan-kenangan bersama Franz. Di mulai
ketika dia duduk di bangku sekolah dasar.
Sang Bel masuk pun berbunyi. Membuyarkan kerumunan dan menggetarkan
gendang telinga. Entah ada kekuatan magis apa dengan bel itu sehingga semua
anak yang sedang asik bermain atau berkumpul menjadi gusar dibuatnya.
“cie..cie..shanaz barengan aja sama Franz”
“enak aja, kita rame-rame tahu” tukas aku. Kita memang
bersama waktu ke kantin tidak hanya aku dan dia, melainkan ada teman ku yang
lain seperti Retno, Adit dan Gatra.
Teman-teman di sekolah dasar ku dulu banyak yang meledek
atau mengejek aku dengan Franz bahwa aku pacaran sama dia. Walaupun aku merasa
bahwa Franz sepertinya memang menyukai
aku waktu dulu. Ah, ada-ada saja bagaimana anak sekolah dasar sudah dapat
membedakan mana yang namanya cinta dan bukan. Bukan kah jaman putih merah itu
adalah jaman di mana anak sedang asik-asiknya untuk bermain bersama teman yang
lainnya. Sedang asiknya tumbuh dan berkembang. Memang aku tak menyanggah ketika
aku bersama Franz mendapat ledekan itu. Aku hanya dapat tertawa dan tersipu
malu dengan semua ejekan dari teman-teman ku dulu.
Franz adalah teman ku. Walaupun dia berbeda agama dengan
aku. Aku masih tetap berteman dengan Franz dan itu bukan hal yang harus membuat
kita menjadi tak berteman. Agamaku mengajarkan tuk berteman dan berbuat baik
dengan siapa saja bahkan sekali pun ia musuh mu. Tapi dulu aku berpikir kalau
berpacaran dengan orang berbeda agama adalah perbuatan dosa. Maka itu aku takut
dengan hal itu. Aku jadi suka mengacuhkan Franz. Mungkin lebih tepatnya aku
menjaga jarak dengan Franz. Aku pikir Itu akan lebih baik.
Masa sekolah dasar memang masanya kanak-kanak. Di sana aku
mendapatkan banyak teman. Di sana aku mendapatkan banyak keceriaan. Di sana aku
mendapatkan banyak pengalaman. Jenjang yang paling lama bersekolah. Enam tahun bersama teman yang sama. Cukup
untuk mengenal setiap karakteristik masing-masing dari kami semua. Kebiasaan,
kenakalan dan kesukaan hampir kami mengetahuinya. Yah, dengan bertukar dari isi
biodata antar teman sedikit banyak membuat kita mengenal satu sama lain. Kita
hanya suka-sukaan dengan teman saja tanpa ada ikatan layaknya orang dewasa
lakukan. Tapi itulah indahnya anak-anak. Franz memang baik kepadaku. Berbagai
macam kenangan bersama Franz, Gatra, Retno dan Adit kadang membuat kangen
masa-masa itu. Ingin rasanya aku kembali pada waktu itu. Memulai dan
memperbaikinya kembali. Menikmati rasa yang aku pun tak tahu apa itu
sebenarnya. Bagi seorang anak SD memang sangat sulit dipahami tapi sesungguhnya
cara pandang kami lah yang suka dirindukan oleh orang dewasa. Selalu mempermudah
hal yang rumit tanpa menyepelekan hal yang sulit. Tak sibuk memikirkan hal yang
tak penting. Karena bagi kami semua hal adalah bagian yang penting. Bermain,
belajar, tumbuh dan berkembang adalah elemen penting bagi kami. Kami pun tak
pernah stress dalam artian sesungguhnya. Kami memiliki obat paling mujarab yang
tak pernah dimiliki oleh orang dewasa. Yaitu bermain dan beristirahat. Orang
dewasa sudah tak mengenal lagi arti
bermain dan beristirahat. Mereka selalu disibukan dengan dunianya. Mereka selalu
disibukan dengan aktivitasnya. Kadang kami berpikir jadi sangat membosankan
sekali orang dewasa itu. Ketika bermain mereka tak pernah lepas bermain. Ketika
beristirahat mereka tak mengenal apa itu istirahat. Mungkin saja tubuhnya diam
tapi otak dan hatinya terus bekerja. Hey, ayolah kau bisa merusak otak mu
jikalau kau tak bisa sekali saja beristirahat. Jikalau ada saklar otak bagi
orang dewasa maka itu akan jauh lebih mudah. Kau hanya tinggal mengaktifkan dan
mematikannya saja.itu akan jauh lebih efektif buat otak orang dewasa. Sedangkan
kami tak perlu dengan hal aneh seperti itu. Terlalu rumit berantakan dan tak
tentu. Itu lah kelebihan dari kami.
Akhirnya tibalah di mana kami harus berpisah selama enam
tahun harus bersama. Membungkus semua kenangan di masa sekolah dasar. Masa di mana kita sering telepon-teleponan.
Kadang kita memiliki rasa yang tidak nyaman ketika kita harus berteleponan
dengan orang lain. Bingung mau ngapain. Tanya yang gak penting. Takut garing.
Menganggu dan masih banyak lagi. Tapi ketika kita nyaman dengan seseorang maka
kau tak perlu lagi tuk menyiapkan setumpuk skenario atau topik pembicaraan.
Karena dengan rasa kita dapat mengalirkan hati, pikiran serta mullut kita tuk
berucap. Atau masa-masa kita ngerjain PR bareng, tugas kellompok atau apalah
yang membuat kita selalu bersama-sama. Mungkin aku bersama dengan teman lain
seperti Retno, Gatra dan Adit serta teman-teman yang lainnya tapi tanpa
disadari ada yang spesial di antara mereka. Seperti titik poros yang coba
memutarkan duniaku. Layaknya magnet yang selalu mencari lawan kutubnya. Mulai
dari pandang-pandangan. Becanda-becandaan. Sampai ledekan yang sebenarnya aku
suka dengan apa yang dlakukannya.
Benih cinta yang terus tumbuh secara liar tanpa mampu ku
kendalikan. Walaupun kami berbeda sekolah sekarang. Tapi aku sangat senang
ketika Franz masih suka menyempatkan diri untuk sekedar bertemu dengan ku. Baik
secara langsung maupun secara tiba-tiba. Dia sering sekali membuatku kaget
dengan tingkahlakunya. Dengan mengendarai sepeda waktu SMP ia menemuiku. Maka
di sanalah ia kembali menenggelamkanku pada rasa yang dalam. Oh cupid, why always me?
Hujan turun semakin deras. Menemaniku terperangkap dalam
lorong cinta dan waktu. Ku ingin lepas. Aku ingin lepas. Aku ingin ikhlas. Tapi
air mata ku tak pandai tuk berbohong. Shanaz terlalu tulus tuk mencintai lelaki
itu. Ia terlalu muna dengan hiruk pikuk kehidupannya. Kini usia ku pun bukan
lagi kanak-kanak. Aku wanita cantik dan dewasa. Bukankah langit saja tahu kalau
aku memang mencintainya. Bukankah langit saja tahu kalau aku menantinya. Kini
ketika hatiku menangis. Langit pun bersedih. Lantas untuk apa aku menantinya
jikalau relung hati ini tak kunjung terisi. Aku adalah wanita. Wanita yang
patut tuk dicintai. Bukan hanya harapan semata. Tumbuhan pun tak pernah
mengeluh ketika ia harus selalu dihujani dengan air hujan. Apa ia marah. Apa ia
mengutuk semua yang dilakukan oleh air hujan terhadap dirinya. Apa yang aku
pikirkan kini. Menatap tumbuhan dan pepohonan di balik jendela. Mengusap air mata
yang mengalir deras di pipiku. Cukup kesal aku dengan semua ini. Aku seperti dibohongi
oleh sahabat dan cintaku. Kadang aku berpikir kenapa ia tak jujur saja padaku.
Jikalau cintaku memang berujung tak berdayuh maka perahu cintaku pun tak akan
pernah sampai ke tujuan. Jikalau cintaku tak tersambut oleh mu. Maka biarkan
aku menepi di perairan. Tak perlu kau tenggelamkan aku bersama kapal cintaku.
Karena aku tak mampu mengangkatnya kembali. Ketika ia tenggelam maka
sesungguhnya cintaku bukan untuk mu.
Teringat kembali ketika malam itu. 28 Maret 2014, tepat
tengah malam aku pun merasakan hal yang tak biasa. Atau biasa di sebuat women
feeling. Mitosnya ikatan batin dan sensitifitas wanita jauh lebih tinggi ketika
ada hal yang berkaitan erat dengan dirinya. Seperti ikatan ibu dan anak, istri
dan suami, atau seseorang terhadap soulmate-nya. Bahkan wanita memiliki alat detektor
selingkuh pada lelaki. Ia bisa merasakan pasangan itu selingkuh atau tidak.
Cepat atau lambat ia akan mengetahuinya. Cukup mengerikan bukan.
Shanaz menemukan ada yang aneh dengan akun jejaring sosial
media milik Franz. Di sana ia menemukan beberapa bukti bahwa Franz telah
menikah dengan seorang wanita. Ia bernama Sifa. Terlihat dari berbagai macam
ucapan selamat dari teman-temannya yang aku sama sekali tak kenal. Seperti
berjuta-juta volt bahkan miliaran volt yang menyambar tubuhku kini. Tubuh ku
kaku. Jantung yang berdebar tak tentu. Adrenalin yang memacu otak dan
saraf serta aliran darah memaku. Mata ku
pun kini mulai berkaca-kaca pilu. Ya sudah, tak dapat ku bendung lagi luapan
emosi yang kini berubah menjadi luapan air mata yang mengalir dipipiku. Bibirku
bergetar. Hatiku sakit. Kini aku tak dapat memejamkan mata sama sekali. Andai
aku memiliki saklar diotakku mungkin aku dapat melupakan hal ini untuk
sementara. Hanya untuk beristirahat. Aku tak perlu menangis. Aku tak perlu
memikirkan hal yang benar-benar membuat remuk tulang belulangku. Lemas. Kini
aku tak berdaya. Seperti di atas waktu aku menanti.
Setelah peristiwa itu. Aku coba kembali merunutkan
kronologis apa yang sebenarnya terjadi. Layaknya detektif, Shanaz pun coba
mencari tahu. Ternyata selama ini Franz berkenalan dengan wanita itu pada tahun
2011. Setelah itu mereka bertunangan di tahun 2013 hampir 3 tahun lebih
hubungan mereka. Aku bertemu kembali pada acara reuni sekolah dasar pada tahun
2009 dan di tahun 2010 sampai tahun 2013 aku menjalin kembali komunikasi dengan
Franz. Aku tak tahu kenapa ia tak cerita dengan ku. Apa aku hanya buih dilautan
hatinya sampai tak ada ruang cintanya untuku. Padahal aku selalu cerita tentang
apa yang terjadi padaku. Saat aku menjadi guru baca dan jarimatika. Dan saat
aku susah maupun senang. Saat aku minta untuk menemani ku dalam acara undangan
di Jakarta. Sejak saat itu intensitas kami berubah. Sekarang panggilan kita pun
berubah menjadi mas dan ade. Begitu romantis dan memabukan waktu itu. Merasakan
manisnya cinta atau aku hanya terbuai oleh visual fantasi hati.
Kenapa ia tetap berhubungan dengan ku kalau ia juga
bersamaan menjaliin hubungan dengan wanita lain. Apa maksud dibalik semua ini.
Jikalau Franz memang tidak mencintai aku. Mengapa ia tidak menghargai aku saja
sebagai sahabatnya. Ya, sahabat. Hanya sahabat. Cukup sahabat saja. Cinta
memang rumit tapi kau dapat menyederhanakan cinta itu jikalau kau mencintaiku
dan aku mencintaimu. Maka kau pun dapat merubah cinta yang rumit menjadi cinta
yang sederhana. Layaknya anak kecil yang tak mempersulit hal yang sukar tapi
mempermudah hal yang sulit menjadi lebih mudah. Cinta is simple.
Shanaz sangat sulit untuk keluar dari situasi ini. Hidupnya
selalu gelisah.
Beranjak ku dari jendela. 3780 detik aku mematung di sana. Sudah
satu jam lebih waktu yang ku buang untuk kembali mengingat hal yang sangat
memilukan. Untung saja hal yang menyesakan dada ini tak membuat ku menjadi
berpenyakit asma kronik yang seketika mungkin dapat merenggut nyawaku. Sangat
tidak wajar. Ku langkahkan kaki ini mendekati kasur dan menghujamkan tubuhku di
sana. Menenangkan saraf-saraf yang
terlalu tegang dengan semua ini. Aku harap dulu lost contact saja dengan Franz
itu akan jauh lebih baik. Tak lagi ingin bertemu dengan dirinya. Tak lagi aku ingin merasakan rasa ini. Aku sudah bosan
dan muak dengan ini semua. membuang penat ini kelautan. Wanita yang seharusnya
mendapatkan sentuhan halus, senyuman dan kasih sayang yang tulus dari seorang
laki-laki. Setelah kelas 2 dan seterusnya aku tak dapat melihat serta
menghubunginya waktu itu. Entahlah ia pergi kemana. Sampai tahun 2004 aku
pindah Ke Bogor.
Pada tahun 2009 silam aku kembai bertemu dengan Franz dalam
acara reuni sekolah. Kembali menemukan jalan cintaku yang mengalir. Bak
dihembuskan angin cinta yang merasuk paru-paru. Aku selalu kagum akan
kepandaiannya waktu sekolah dasar. Walaupun Franz bukanlah sang juara kelas
tapi ia selalu menempati ranking dua di kelas. Aku tak kesal ketika aku hanya
harus menempati ranking tiga atau lima. Menemaninya di belakang sambil
menikmati kekagumanku dengannya. Reuni ini terjadi karena jejaring sosial media
antar teman sekolah dasar ku dulu. Dari sanalah aku dapat berjumpa kembali
dengan Franz. Aku pikir mereka(teman-temanku) telah berhasil menjadi orang yang
sukses. Dengan berbagai macam cita-cita dulu. Franz tak menjadi dokter. Kini ia
menjadi seorang ahli IT. Dan yang lain teman ku ada yang menjadi seorang
accounting dan lain-lain. Aku sempat minder dengan itu semua tapi aku dapat
bangkit dan memiliki kepercayaan diri untuk dapat kembali berhubungan dengan
Franz.
Aku sangat sayang padanya. Mungkin kini aku telah gila.
Cinta ini yang membuat aku menjadi gila. Gila akan cintanya kepada lelaki itu.
Aku sudah tak sungkan lagi untuk menyatakan sayang ku padanya. Tapi kami
berbeda? Persetan dengan semua itu. Aku terlalu bodoh untuk berpikir logis.
Menggunakan akal saja aku tak mampu karena hatiku selalu dipenuhi dengan
cintaku padanya. Sempat aku mengutarakan untuk kita menikah saja. Simple bukan,
ia masuk agamaku dan kami dapat bersatu. Tapi apa karena cinta ia masuk
agamaku. Bukan agama alasannya tapi aku. Maka terkutuklah aku. Apa dapat dibenarkan
semua ini. Kenapa kita tak menikah saja di luar negeri ini. Toh kita masih
dapat menjalankan agama kita masing-masing. Apa aku dapat menjalani kehidupan
seperti ini.
“bu, Shanaz sayang sama Franz. Bagaimana kalau Shanaz
menikah dengan Franz dengan akidah kita masing-masing.”
“tentu kau boleh menikah sayang. Tapi kau juga harus
meninggalkan ibu beserta keluarga kita dan jangan pernah Shanaz kembali ke
sini.” Balas ibu.
Ah, sangat rumit ketika kau harus memilih yang seharusnya
tidak ada pilihan. Begitu yakinnya aku dengan Franz waktu itu. Tanpa
memperdulikan perasaan dia terhadap ku.
Kini ketika ku menangis di depan ibu. Memperlihatkan foto
pernikahannya. Menceritakan apa yang telah laki-laki itu lakukan terhadap
diriku. Aku lelah untuk berjuang sendiri. Aku lelah mendayuh tanpa ada tepian
di ujung. Aku sadar, ibu dan keluarga seharusnya adalah tempat yang paling baik
untuk kita berbagi. Mereka selalu ada. Mereka selalu memberikan jalan keluar
dalam setiap permasalahan. Mereka selalu sayang dan peduli dengan aku. Yang
jelas cinta dan sayang ku tak akan pernah bertepuk sebelah tangan dengan
keluarga. Mereka selalu mencurahkan rasa sayangnya tanpa kebohongan dan
perasaan sesaat semata. Maafkan aku ibu. Maafkan aku teman-teman karena tak mau
mendengarkan apa yang kalian sampaikan kepadaku. Kini hanya penyesalan. Air
mata ku pun tak tertahankan. Ketika wanita menangis karena mu. Ia tulus
mencintaimu. Ketika ia tertawa karena mu. kau telah menyentuh hatinya di atas
kenyamanannya. Dan kini tinggal sejarah. Memori kisah cintaku. Aku harus
bangkit dan membuka kembali lembaran baru kehidupan cintaku. Aku tak mengapa
karena ini memang sudah jalan hidup. Menjadikan suatu pelajaran bagi aku
khususnya.
Hingga pernikahannya pun terbawa mimpi oleh ku. Apa aku
sudah gila berada di dalam pernikahan orang yang aku sayangi sedang bersanding
dengan orang lain dan sahabat-sahabatku. Aku tertidur tapi tidak dengan hati
dan otakku sehingga entah kenapa mudah sekali Franz masuk dalam mimpi-mimpiku. Mungkin
pertanda dari mimpi-mimpiku yang dulu bersamanya. Yaitu mimpi di mana aku dan
Franz dalam suatu perjalanan tanpa ujung yang tak jelas. Kini menjadi
kenyataan. Aku dan Franz tak menemukan ujung pelabuhan jodoh kita.
Mengubur semua masa-masa kenangan itu. Memblock semua jejaing
sosial media lelaki itu dalam hidupku yang baru dan menghapus semua kontak
teman-teman ku dulu. Aku ingin melupakan ini semua. Menjadi wanita yang cantik
seutuhnya yang baru.
Hanya satu pesan yang ku kirim sebelum aku mem-block
akunnya.
“kamu jahat mas”
Kau tak perlu meletakan hati dan akal mu ketika mencintai
seseorang melebihi cintamu pada Tuhan. Tuhan pun tak ingin jika hambanya
melebihi cintanya pada-Ku. Pergi sajalah kau dari dunia-Ku. Di mana kau dapat
hidup tanpa Tuhan. Maka kau dapat mengagungkan cinta mu untuk mahluk. Cinta
memang indah, tapi persahabatan jauh lebih indah ketika kau sudah memantapkan pilihan bahwa
dia adalah sahabat ku dan bukan pujaan ku. Karena Sahabat tak akan pernah sama
dengan kekasih. Hubungan akan lebih indah ketika kau bangun dengan pondasi
kejujuran maka kau dapat membedakan mana cinta dan persahabatan. Tak akan indah
cinta ketika kau tak mencintai sang pemilik cinta sesungguhnya.
Pesan ini penulis kutip langsung dari tokoh utama : “ Inilah
hidup. Pahit, manis, suka duka, masalah dan ujian harus tetap kita jalani,
syukuri dan ikhlas akan semua skenarionya yang indah. Kehendaknya yang baik untuk kita. Semoga jadi
kekuatan untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik. Aku ikhlas dengan takdirnya.
Doa terbaiku untuk sahabat dan belahan hatiku semoga bahagia dengan pilihan
hatimu dan jadilah imam yang baik untuk istrimu. Bentuklah keluarga yang
sakinah, mawaddah dan warohmah. Semoga aku juga berbahagia sepertimu. Dan
semoga kekesalan dan kebencian ku hanya sementara waktu karena aku bukan
pendendam. Tapi aku adalah seorang peri cantik yang akan selalu memaafkan
mereka yang ku sayangi walaupun telah mengecewakan dan menyakiti hati ini.
Sampai bertemu nanti di saat kita sudah punya anak, cucu dan kita akan selalu
bersahabat sampai kakek-nenek(ini janji kita mas, your my best friend
forever)”. Inilah akhirnya. Seperti mimpi. Mimpi aku bersama dia. Hidup
masing-masing dengan pilihan hati kita. Ini mimpi yang jadi nyata atau hanya
kenyataan yang jadi mimpi. Meski aku sering berangan dan berandai-andai kalau
kita bisa bersatu membentuk keluarga yang bahagia dunia dan akhirat. Tapi
inilah skenario-Nya yang terbaik dan indah buat kita bersama.
Sambil tersenyum Shanaz menceritakan padaku. Kini ia
terseyum. Menyunggingkan bibirnya yang lembut dan menawan. Cantik dan siap
menatap kisah cintanya yang baru. Tidak hanya untuk sesaat tapi untuk
selamanya.
Hal yang masih tertinggal buat Shanaz adalah sebuah
pertanyaan.
“mas kapan nikah? Kalau kamu nikah jangan undang aku ya.”
Thank’s to reading the true story. Real story with other names.
.jpg)


Komentar
Posting Komentar