Peradaban Cinta

Peradaban Cinta
(Chrisanstory)
Hi Tuan Putri ! apa kabarmu hari ini? Seperti sang mentari yang selalu menghangatkan disetiap bumi ber-rotasi, yang selalu mengelilinginya setiap saat tanpa pernah berhenti. Menciptakan suasana yang lebih cerah di dalam hati. Seperti rembulan yang tergantung disetiap malam menyunggingkan senyuman dalam kegelapan malam. Menepis tentang bualan malam yang kelam. Itulah segelintir harapan pujangga untuk dirimu. Di kala senja hampir menenggelamkan sang sinar, dikala mentari tak lagi membagi cahayanya maka diriku dapat belajar bahwa suatu saat sinar yang menyinari pun akan hilang pada waktunya. Tapi bukan berarti tak akan ada cahaya yang akan menerangi disetiap harinya. Selama cahaya dan harapan masih bersemayam di dalam hati maka tak akan ada ketakutan yang selalu mencibir di relung hati. Karena sinar itu bukan milik aku, dirimu ataupun kalian seorang tetapi sinar itu adalah milik ciptaan-Nya. Hidup memang pilihan. Kita bisa memilih apapun yang kita inginkan di dunia ini tapi setiap pilihan biar Tuhan yang menjadi pemandu dalam menapaki perjalanan kehidupan di dunia yang fana ini. Sebentar atau lamanya kita hidup di dunia ini membuat kita mengerti bahwa apa yang kita lakukan bukan untuk hari ini tapi untuk apa yang akan kita bawa diperkampungan yang paling kekal nantinya yaitu akhirat. Setiap detik akan selalu menjadi kenangan tapi setiap detakan detik yang bergulir tak bisa kita pinta kembali untuk mengulang.

Menatap jalan nun jauh di depan, sejauh mata memandang yang tak bertuan, seperti melihat masa depan yang tak akan pernah tahu apa yang akan kita alami dan apa yang akan kita jumpai. Dengan semilir angin yang memanjakan tubuh, mengelus-elus kulit yang menggelitik. Kumasukan tanganku ke dalam dekapan tubuh, udara sejuk dan rindangan pohon yang berada di sekitar ku kini menjadi teman dalam merenungi setiap detik waktuku yang terus tumbuh, langkah kaki yang ku gerakan secara perlahan pun dapat merasakan pijakan di atas bumi cinta, tiap hembusan udara yang ku hempaskan dari mulutku, seperti membuang peluh kehidupan yang ada di dalam pikiran. Menyuruh mereka untuk pergi dari diriku, yah, membuang mereka dari pikiranku. Membiarkan oksigen lebih banyak masuk ke dalam kepalaku sehingga aku dapat berpikir lebih rasional. Ah, bukan ! Jikalau setiap manusia hanya berpikir rasional mungkin tidak ada yang namanya keajaiban, tidak ada yang namanya cinta dan tidak akan pernah ada yang namanya Tuhan. Ku biarkan kaki ini terus melangkah, menikmati setiap pijakan kaki pada bumi, merenungi setiap nikmatnya. Kicauan burung dan desiran bising kendaraan membentuk suatu simponi dalam bunyi. Kini ku menatap birunya langit dengan awan-awan yang beriringan dihiasi burung layang yang berkejar-kejaran bebas tanpa takut jatuh terhempas. Kadang aku pun berpikir jikalau manusia memiliki sayap mungkin tak akan ada yang namanya kendaraan, tak akan ada yang namanya kemacetan, bising kenalpot yang memecahkan gendang telinga, emisi kendaraan yang berpolusi, mungkin bumi pun akan tersenyum, dia pun tak akan marah dan tak akan menebar bencananya untuk manusia. Tapi bukankah manusia itu yang membuat bencananya sendiri. Kenapa harus menyalahkan bumi yang sudah tua. Dia butuh dijaga dan dipelihara. Bukan dibiarkan dan ditinggal begitu saja. Bukan pula kita mencari tempat tinggal lain seperti bumi.

Jikalau aku mati apakah aku akan memiliki sayap? Layaknya malaikat yang dapat terbang menembus awan dan terbang secepat kilat. Sebuah mahluk yang paling patuh di alam semesta dan mahluk yang tak pernah berbuat dosa. Tapi bukankah manusia dapat lebih mulia derajatnya di hadapan Sang Illahi Robbi. Ia datang dengan akal dan nafsu dalam jiwa. Mahluk yang paling sempurna.

Tak pernah terbesit dihatiku untuk menyerah, menurunkan senjata dan berkata “aku tidak ingin hidup lagi...!” mengangkat tangan lantas menjatuhkan air mata ke bumi. Aku rasa tidak. Aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Kalah dari permasalahan hidup. Aku pun akan berkata “ ...aku memiliki Tuhan yang lebih besar darimu, hey masalah ! kenapa tidak kau yang enyah saja dari hadapanku...”
Bersambung...


Komentar

Postingan Populer