GOES Ka SALAK (CHAPTER 2)
Menelusuri Jejak
Nostalgia
January 07, 2018.
It’s time to go’es, setelah Event Tugu to Tugu berakhir terlewati
dengan lancar dan sukses maka kali ini gua bersama Firman akan mulai kembali
melakukan petualangan yang ga kalah excited
dari Event kemarin dan menurut gua
ini jauh lebih keren dari apa yang kita bayangkan.
Di awali minggu pagi yang cukup
cerah dengan awan putih yang menggumpal bak permen kapas yang melayang-layang dan
sang mentari yang menyinari Kota Bogor dengan hangatnya, kita mulai tikum dari Lawang
Salapan, awalnya tikumnya itu di Sempur namun berubah haluan menjadi di Lawang
Salapan instruksi Firman. Gua pun mulai meluncur ke TKP dari rumah dengan
persiapan yang cukup lengkap cuman perut doang yang belum di isi memang, but its not problem mungkin kita bisa
sarapan dulu di jalan nantinya. Dengan jersey
kuning bertuliskan Tugu to Tugu pun sudah
siap gua kenakan. Tidak lupa jersey
yang gua bawa buat Firman, dan yang perlu kalian tau jersey ini kita dapat
tidak cuma-cuma pastinya butuh kerja keras dan perjuangan pula untuk
mendapatkannya, Okay, secara substansi memang kita ga ikut lari tapi essensi
perjuangan dengan sepeda sejauh 80K itu sudah menjadi garansi dari kami sebagai
finisher. Sekitar pukul 08.00 kita sudah
standby di Lawang Salapan dengan
ditemani lontong dan Tahu Sumedang yang kita beli untuk mengganjal perut sambil
menunggu kepastian Prass untuk ikut atau tidak. Duduk menunggu diselingin
pemandangan dede-dede gemes yang berlalu-lalang dan pak polisi yang asik menilang
satu persatu pengendara-pengendara sepeda motor dengan santainya.
Matahari pun mulai meninggi dan
karena kita pun sudah cukup lama menunggu akhirnya kita putus kan untuk
berangkat sekitar pukul 09.00 tanpa Prass yang ternyata ga bisa gabung dengan
kita. Awalnya kita punya rencana untuk naik ke puncak cuman faktor fisik dan
hari yang sudah terang. Firman ambil inisiatif untuk merubah tujuan ke Daerah
Cifor-Situ Gede ga terlalu jauh dari sini, untuk goes permulaan sih it’s Okay.
“Bro, si Prass kan ga jadi ikut
nih, abis begadang katanya, gimana kalau kita gau usah ke atas dulu, belum siap
kayanya sekarang mah, terus udah siang juga, gimana kalau kita ke Cifor”.
“Okay, hayu aja ga masalah mau
kemana juga”.
Dari situ kita pun berangkat.
Dengan Jersey sama, sepeda yang
berbeda, Firman dengan FatBike-nya dan
gua dengan X-trade MTB Grey lewatin
jalur Otista menuju pertigaan MCD terus sampai Paledang melewati Mawar belok ke
jalan Semeru sampai pertigaan Lampu merah dekat RS.Karya Bakti kita pun lurus
terus sampai Semplak. Di jalan menuju Cifor kita sempat bareng nge-goes
Komunitas Sepeda lain yang mau ke curug kondisi jalan pun cukup kondusiflah tidak
terlalu ramai kendaraan jadi masih aman terkendali. Sampai di Cifor dan selama
perjalanan kita nikmatin dengan photo-photo dan nge-Vlog ala kita, tidak lama
berselang akhirnya kita sampai juga di Situ Gede, sempet juga cari jalan masuk
biar kita ga perlu bayar untuk masuk ke sana, mulai cari-cari jalan, gang demi
gang kita liatin dan lewat-lewatin rumah warga, ada yang lagi hajatan sepertinya
soalnya ada suara musik organ tunggal gitu, atau lagi pamer sound system yang baru di beli. Musiknya sih ada tapi ga ada
atribut-atribut orang yang lagi hajatan, abis setel musik lagu dangdutnya
kenceng banget dari ujung danau sampai sebrang aja masih kedengeran. Usut punya
usut ternyata suara musik itu adalah tempat group organ tunggal yang sedang
latihan di sebuah rumah warga.
Sedikit menyusuri pinggiran jalan
setapak di dekat danau akhirnya kita pun sampai, cukup ramai juga di sana dan
kita memutuskan untuk parkir sepeda dan istirahat di sebuah warung
remang-remang yang terbuat dari bambu kita lihat di sana ada seorang bapak
penjual warung yang cukup sangar, wanita penghibur dan seorang lelaki hidung
belang sedang duduk berduan di bangku warung sambil bermesraan.
Okay, lupakan, ternyata itu cuman
ada dipikiran gua doang, yang sebenarnya adalah seorang bapak penjual warung
yang ramah dan sepasang suami istri yang lagi liburan kalau tidak salah yang
sedang istirahat sambil menikmati pemandangan danau sambil makan kuaci dan
secangkir kopi hitam. Dan si bapak itu pernah berkata setelah mereka pergi
“..batur nu meunang isina urang nu meunang sampahna lamun dahar kuaci mah...” Sempat
berbincang-bincang sebentar dengan kita dan mereka cukup tertarik dengan sepeda
Firman dan penasaran pastinya apakah dengan ban sebesar itu maka sepedanya pun
akan terasa berat karena mungkin untuk orang lain masih terlihat aneh dengan
sepeda yang memiliki ban dengan ukuran sangat besar hampir seukuran ban mobil. FatBike sendiri memang di design dengan ban berukuran besar untuk
medan yang berbatu sehingga membuat lajunya pun cukup stabil dan nyaman dari
guncangan sedangkan dari bobot bannya sendiri memang terlihat besar tapi tidak
seberat bobot dari ban kendaraan mobil tentunya. Sampai sana kita pesan segelas
kopi dan es untuk menemani istirahat kita sambil mengabadikan moment-moment
dengan berfoto ria.
Kenapa di sana karena salah satu
tempat nostalgia Firman waktu pacaran jaman dulu, pacaran dekat danau sambil
duduk berduan di bawah pepohonan menambah romantisme kala memadu kasih.
Merasa sudah cukup istirahat dan
ternyata masih cukup pagi juga, Firman coba ngusulin untuk terus melanjutkan
perjalanan ke Bendungan PLTA daerah Leuwiliang.
“Mik, lagi Free ga lu sekarang?”(udah kaya ngajak orang nge-date nih)
“Bebas sih, Kenapa emang man?”
“Gimana kalau kita lanjut ke arah
Bendungan PLTA, Leuwiliang ke sana”
“Bebas, Hayu aja” (Pikir gua
jaraknya itu ga akan jauh)
Pukul 10.00 kurang lebih akhirnya
setelah sepakat kita pun mulai bersiap dan melanjutkan perjalanan kembali
tentunya melewati organ tunggal yang sedang latihan tadi, sempet berhenti dan
gua lihat Firman turun sambil ngeluarin uang lembaran-lembaran pecahan lima
puluh dan seratus. “Wah, mau nyawer nih”, Firman udah kaya juragan beras yang
punya hajat, biduannya joget dengan liar sambil ngambilin uang saweran dari
tangan temen gua, suasananya sudah makin panas dan akhirnya uangnya dihamburin
ke atas udah kaya hujan duit, ada kali 10 juta mah abis sama Firman buat
saweran doang.
Tapi yang tadi Bo’ong, yang bener
kita mulai lanjutin lagi perjalan lewat IPB Dramaga, asrama putri, Fakultas pun
kita lewati sampai meja Rektor pun kita lewati yang sedang Meeting dan para dosennya pun cuman bisa cengo aja liat ada sepeda
masuk melewati mereka. Setelah keluar dari lingkungan IPB dan menuju ruas jalur
utama jalan raya melewati Cibanteng-Ciampea dan seterusnya hingga pantat gua
udah mulai kerasa keram ditambah biji masa depan yang kelamaan kejepit sama
sadel sepeda, lu bisa bayangin kan ujung sadel sepeda yang kecil harus beradu
dengan bagian tubuh lu yang berharga dengan medan yang naik turun dan berbatu. Itu
sakit Bro..kalian bisa cobain sendiri sepedahan 90K dengan tempat duduk kecil.
Kalau naik motor aja pantat udah panas dan menuju keram kalau kelamaan duduk. Selama
perjalanan kita sempat berhenti untuk minum dengan perjalanan jauh dengan perut
belum terisi oleh carbo, air mineral
menjadi sangat berharga. Waktu itu gua udah kehabisan air mineral, niatnya kita
bakalan berhenti di Alfamart atau Indomart tapi kita lanjutin terus perjalanan
sampai ke Bendungan PLTA, kalau ga salah kita sudah mau memasuki kaki Gunung
Salak, sampai gua ga tau sudah sampai mana karena yang punya kawasan Forerider gua yaitu Firman, si pencari
jejak nostalgia, gila kalau lu ga punya kendaaran pribadi lu harus jalan kaki
berkilo-kilo meter untuk ke tempat tujuan yang pengen lu datengin. kita
berhenti untuk nanya sama orang, kebetulan dijembatan yang kita berhenti ada
anak kecil situ yang lewat, lantas kita tanya, lebih tepatnya si Firman yang
nanya.
“Lamun ka palih dieu, tiasa ka
Bendungan teu?”
“...”
Dan seterusnya lah gua lupa
bahasa sundanya apa tapi yang gua tangkep kalau ke kanan bawah bisa sampai ke
bendungan. Okay, kita pun mulai berangkat dan menelusuri jalannya. Sekitar 2 KM
akhirnya kita sampai di bendungan tapi di perjalanan kita nikmatin dulu
pemandangan alam dengan foto-foto. Waktu kita mau naik ke atas bendungan ada
anak tangga yang jumlahnya itu sama dengan jumlah eskalator yang ada di Plaza
Matahari, Taman Topi. Dia ngaku kepala desa dan pernah nyelamatin orang yang
jatuh ke bendungan, gua liat bendungannya aja ngeri kaya liat bajigur di dalam baskom,
kaya gitu mungkin rasanya, dengan dua pipa yang meluap-luap. Mau bener atau gak
seengganya kita menghormati orang situ aja. Tapi ya kalih..tangga yang mana
yang di matahari yang sama dengan jumlah anak tangga di bendungan PLTA ini, dan
setahu gua di Plaza Matahari ga ada eskalatornya kan haha..
Pukul 12.00 atau lebih. Setelah
selesai kita turun dan siap menuju ke atas gunung. Lebih tepatnya mungkin kita
jadi muterin pegunungan, tujuan utamanya cari warung dan masjid untuk Shalat Dzuhur
lalu istirahat. Kita ketemu dan singgah di masjid pertama, gua lupa apa nama masjidnya
lalu kita shalat di sana, parkir sepeda di masjid dan gua pergi untuk beli
minum ke warung. Sistem shalat ganti-gantian kita gunakan untuk kemanan juga
soalnya bahaya kalau ditinggalin gitu aja. Waktu gua selesai shalat gua liat
Firman udah ga ada di teras masjid. Gua pikir dia kemana ternyata gua liat ke jalan
ada sebuah rumah di sebrang masjid gua liat dia sama wanita bercadar, sempet
heran juga liat wanita bercadar mau diajak ngobrol sama orang asing. Biasanya
orang seperti itu susah untuk diajak ngobrol apalagi kalau bukan mahram-nya. Sempat penasaran dan akhirnya
gua tanya;
“Siapa itu man?”
“Itu pacar adik gua!”
“Wah, yang bener ! Pantesan, Kok
bisa tau?”
“Dia tadi manggil gua(“Kang
Firman ya?”), nah dari situ gua tau, adik gua mah malah lebih agamais dari gua,
celananya aja yang segini, sedangkan gua kerja ditempat yang jauh dari agamais
”
Ga salah kalau ini bener-bener
perjalanan nostalgia memang, jadi senyum-senyum sendiri gua. Habis basa-basi,
menyegarkan badan dan rohani kita siap kembali melanjutkan perjalanan dengan
tujuan cari Carbo dulu karena perut
udah laper banget soalnya medannya aja gila-gilaan, tanjakannya hampir 90
derajat, butuh tenaga ekstra untuk bisa melaluinya. Belum melewati Purasade,
Purabakti, Pamijahan dan entah apa lagilah namanya.
Lama berselang kita pun singgah
di Rumah Makan Padang, pinggir jalan ga terlalu besar, minimalislah. Parkir
sepeda dan lepas sepatu untuk masuk ke dalam. Gua rasa ini tempat makan yang
tepat yang kita pilih. Selain bersih dan ramah, rasa makanannya itu jadi
berlipat-lipat nikmatnya karena laper, dengan menu ayam bakar, dua porsi nasi
dan es teh manis sedangkan Firman dengan ayam bakar, nasinya satu porsi dan es
jeruk ditemani alunan murotal juz 30. Dan harganya pun standard banget. Setelah bayar dan berbincang-bincang dengan si ibu
yang punya rumah makan kita siap untuk pergi melanjutkan petualangan.
Dengan pemandangan hamparan sawah
dan pegunungan kita terus melesat dengan carbo yang terpenuhi, hembusan angin
dan sejuknya udara ditambah cuacanya yang sangat mendukung tidak terlalu terik
atau pun hujan menambah semangat perjalanan. Medan yang berkelak-kelok, naik
turun, jalan berbatu, turunan tajam dan curam sudah kita lewati. Menjelang
Ashar kita pun mulai menepi untuk Shalat Ashar di Masjid, tidak lupa gua
mencari minuman di beberapa warung tedekat masjid. Hampir susah mendapatkan
minuman yang gua inginkan sudah empat warung gua datengin ternyata baik MIZONE
ataupun POCARI tidak ada yang jual terpaksa beli minuman yang ada aja di warung
tersebut. sempat juga berbincang-bincang dengan orang sana, masih daerah Kec.
Pamijahan mungkin gua kurang hapal soalnya, karena yang gua tahu bentar lagi
kita akan melewati jalan kenangan sejauh mata memandang melewati rumah
mantannya Firman yang sudah punya anak, melewati tempat pacaran dan tempat makan
baso mereka, kenapa dia hapal banget jalan ini karena tiap hari atau kalau
malam mingguan dia bulak balik antar jemput ceweknya pulang waktu dulu, gokil
ga tuh, jauh banget pacarannya juga.
Tapi surganya para sepedahan itu
ketika lu pulang ketemu jalan yang tinggal lurus turunan sejauh mata memandang,
itu klimaksnya Bro...udah nikmat banget deh pokoknya semua perjuangan lu nge
goes itu ga sia-sia. Kurang lebih 5K kali kita terus turun ke bawah hingga kita
ke jalur keluar dan masuk ke jalan raya leuwiliang lagi. Dengan sisa-sisa
tenaga yang ada, jalanan yang cukup padat dengan kemacetan, lalu-lalang
kendaraan hilir mudik dan mentari yang mulai tenggelam. Kita memutuskan untuk
istirahat di rest area SPBU, masuk indomaret untuk membeli minuman. Ketika gua
check handphone ada chat masuk di aplikasi WA gua, entah nomor siapa tapi ada
yang nyariin gua soalnya Firman juga dapat chat yang menanyakan gua. Oh
ternyata ada orang yang tertarik dengan tulisan di blog gua. Hampir kita
berasumsi kalau ada orang yang tersinggung dengan tulisan yang gua tulis
tentang Tugu to Tugu kemarin.
Ternyata salah perkiraan kita.
Pukul 17.30 kita mulai
melanjutkan perjalanan lagi menuju Sempur. Kita shalat Magrib di perempatan
menuju Semplak, istirahat di parkiran dan shalat Magrib secara bergantiaan
Pukul 18.30. Selesai shalat Magrib kita kembali berangkat masih dengan jersey kuning Tugu to Tugu lampu sepeda yang menyala dan goes menuju Sempur.
“Mik mau makan baso di sini ga?”
“Hayu aja bebas man”.
Di dekat Manunggal, Jalur Cilendek
memang ada tempat makan baso cuman kita akhirnya ga jadi untuk makan baso di
sana kita putar haluan untuk makan di sempur, sebelumnya kita berhenti untuk
beli es kelapa di dekat Pasar Anyar, dan batuk gua udah parah banget, dengan
kondisi badan kurang fit aja gua masih bisa ngegoes berpuluh-puluh kilometer,
gua harap sih ga tepar udahnya.
Selamat datang Kota Bogor yang
tenang dengan diselimuti malam dihiasi kerlap-kerlip lampu kota, menambah
indahnya Kota kenangan. Sempur yang dipenuhi muda-mudi yang sedang asik
menghabiskan malam dengan makan dan bersenda gurau menambah suasana hangatnya
akhir perjalanan dan petualangan gua bersama Firman dengan waktu 13 jam - 90K
sudah kita habiskan di hari Minggu ini. Hari yang menorehkan cerita, hari yang
menapaki nostalgia kenangan, hari yang menikmati alam dan hari baru dari awal petualangan-petualangan
selanjutnya dari kita.
Dengan Cilor dan Indomie menutup
akhirnya hari ini, pukul 22.00 gua pun melanjutkan kembali untuk sampai ke
rumah menikmati dinginnya Kota Bogor dengan Kehangatan rumah.
Chrisanstory.
“Goeslah sejauh mana pun kau ingin tapi jangan
jauhkan dan lupakan Tuhan mu ketika kau pergi”











Komentar
Posting Komentar