Goes ka Puncak
Bogor, February 4, 2018.
Rintik Hujan mulai turun, membasahi
tanah, jalan dan permukaan Bumi. Bogor bukan sedang bersedih atau sedang
menonton drama Korea yang berakhir dramatis. Bulan februari adalah musim hujan.
Musim yang banyak membawa kenangan dan air kiriman ke Jakarta. Kota Dermawan, aku
kadang menjulukinya seperti itu. Musim hujan yang penuh dengan cinta. Kadang di
Bumi tempat kami tinggal sering menyebutnya sebagai Bulan Cinta. Di tanggal
14 disebut Valentine Day, sebagian
orang mengartikannya sebagai hari kasih sayang. Hari kontroversi, hari di mana
kalian dapat melihat orang yang sedang berkasih sayang dengan saling bertukar
coklat, bunga, baju couple dan
bernuansa pink atau melihat para aktivis masjid, santri dan
mahasiswa yang sedang mengorasikan larangan merayakan Valentine Day. Bogor sejuk, tenang, basah dan ada bunga bangkai. Itu
tempat kelahiranku. Tempat di mana aku tumbuh dan berkembang bersama bunga
bangkai. Tapi sayang sudah beberapa tahun ini di Kebun Raya Bogor tidak ada
Bunga Bangkai. Aku selalu kagum walaupun bau tapi banyak orang yang ingin
lihat, datang dan mengabadikannya lewat foto. Apa bedanya kalau aku tanam bunga
lalu dibawahnya aku kasih bangkai tikus yang sudah mati karena diracun Ayahku,
katanya kesal, susah untuk ditangkap jadi diracunin saja. Dan kelak aku ingin
berkembang biak pula di kota kelahiranku, tegar beriman. Sering aku baca tepat di
atas plank jalan yang aku lihat dan
lewati. Melihat mereka dapat tumbuh dengan sangat baik. Sehat, soleh serta
solehah. Amin.
Suara Adzan berkumandang di waktu
subuh, menggelitik kuping untuk segera bangun. Melihat langit yang masih gelap
tanpa bintang. Awan gelap masih santai berkrumul dihamparan langit Kota Bogor.
Bogor Kota Sunda. Mayoritas demikian. Sebagian perantau, Jawa, Batak, Madura
dan lain-lain. Subuh-subuh gini di daerah tempat aku tinggal sudah mulai banyak
orang. Rumahku tidak jauh dari pasar dan masjid. Hilir mudik kendaraan dan
orang sudah mulai bermunculan atau pengusaha gorengan yang sedang menggoreng
beberapa gorengannya, tahu berontak, bakwan, ubi dan pisang goreng. Masih
hangat. Aroma tepung dan minyak yang sering aku lewati ketika ke Masjid
Darussalam. Mas Warno, seorang perantau dari Jawa yang sudah cukup lama menggeluti
profesi tersebut dan telah tinggal di sini.
“Ki...”sapanya kepadaku.
“Iya, Mas”jawabku.
Sebuah dialog singkat sehari-hari
ketika aku berangkat ke masjid ketika melewatinya di pinggir jalan. Mungkin dia
sudah hapal banget baju yang sering aku kenakan, sarung bahkan minyak wangi
yang aku semprotkan. Ngomong-ngomong soal minyak wangi atau parfum aku suka
mencium aroma yang biasanya dipakai oleh wanita hijaber, aku suka banget dengan wanginya. Entah apa itu namanya
yang jelas cukup enak di hirup dan men-sugesti.
Sebelum shalat Subuh biasanya dia
mempersiapakan gerobak dan peralatannya di pinggir jalan lalu kemudian menyusul
ke masjid, belum kalau ada lagi pengusaha sayur yang setelah shalat subuh
berjamaah sering pula menyapaku.
“Hayo Ki, manasin mobil dulu”
sambil ngeloyor melewatiku.
“Siap, Mas !” yang dimaksudnya itu
adalah gerobak sayur.
“Haha”
Dari kemarin memang sudah aku
rencanakan untuk nge-goes sampai puncak paling tidak Masjid Attawun adalah Check point pertama. Aku sudah memeriksa
jarak dari rumahku di Ciluar sampai Puncak sekitar 40 Km. Menjelang pagi, hujan
turun menyurutkan semangat untuk berangkat seorang diri. Kasur menarik jasmani
untuk terus merebahkan badan dan memejamkan mata di hari minggu yang basah. Udara
dingin, angin pun berhembus cukup intensif mengurangi celcius di Kota Bogor. Tidak salahnya untuk menunggu, walhasil hujan
pun berhenti pukul 09.00 WIB. Matahari mulai mengintip diantara gumpalan awan
yang melayang, mempersilahkan cahayanya untuk sedikit masuk ke permukaan bumi. Mengembalikan
semangat yang hampir pudar. Aku pun mempersiapkan diri untuk segera berangkat. Sepeda,
Helm, Perbekalan, Baju Ganti, Toolkit,
Light Stick, siapa tau ada JKT48 yang lagi shalat di Attawun dan niat yang
mantap karena aku ingin shalat Dzuhur di sana. Sekitar pukul setengah sepuluh aku pun
berangkat.
“Bismillah !” dengan suara lirih
aku pun keluar dari rumah.
Sudah sering aku melakukan
perjalanan seorang diri. Bebas tanpa harus menyusahkan orang lain. Kalau susah
ya aku tanggung sendiri. Kalau pun dengan teman aku lebih suka tidak usah
terlalu banyak, satu atau dua orang pun sudah cukup untukku. Awalnya aku ingin
mengajak salah satu temanku yaitu Salwa Tamsil, salah satu temanku waktu
kuliah. Aku biasa menyebutnya Si Om. Karena memang lebih tua dariku. Orangnya baik,
perawakannya tinggi, besar, berjenggot dan laki-laki. Dia tinggal di Laladon. Sudah
berkeluarga. Entahlah yang pasti selama masih di planet yang sama. Karena cukup
dadakan waktu berangkatnya maka aku putuskan untuk tidak mengikut sertakannya
dalam perjalanan kali ini. Maaf Om. Aku masih tidak enak dengan anak dan
istrimu kalau aku ajak tiba-tiba.
Sedikit demi sedikit roda sepeda
melaju dengan lancar melewati simpang Pomad diantara angkot, motor dan
kendaraan lainnya. Dengan pakaian hitam kakiku mengayuh dengan mantap. Mentari kembali
bersembunyi, angin bertiup halus dan lantunan lagu yang selalu menemaniku
selama perjalanan via headphone yang
menempel di kuping terus bermain secara acak.
Track yang aku ambil melaui jalur utama jalan raya untuk memangkas
jarak dan waktu. Dari Pomad aku terus menuju Kedung Halang, Jalan Baru, Jambu
Dua, Jalan Padjajaran yang sudah mulai menanjak perlahan, sebenarnya kaki aku masih
terasa pegal. Sabtu kemarin aku lari di lingkar luar pedestrian Kebun Raya. Minggu
aku hajar dengan sepedahan ke puncak. Kebayang kaki ini pasti teriak dan nangis
kalau bisa bicara. Untung dia gak punya mulut tapi mata, ya mata kaki. Maaf
kaki, aku bukannya gak peka dan tidak punya perasaan. Tapi karena aku sayang
mangkanya aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Sekarang ototmu jadi kuat kan. Haha..terima
kasih karena masih mau aku gunakan.
Jarak 40 Km itu sebenarnya tidak
terlalu jauh cuman karena medannya naik-naik ke puncak gunung maka tingkat kesulitannya
menjadi 2X lipat dari Straight Roads.
Kalau di Ninja, ini sudah masuk misi tingkat level “S”, yang artinya
Susah-Sulit-Sungkar. Di tambah di Indonesia pengguna sepeda masih bukan
prioritas jadi tdak begitu dihargai di jalan raya, sakit rasanya gak dianggap. Sedih
karena kalau mau tau harga sepeda aja udah bisa seharga dengan harga mobil. Orang
ke puncak dengan mobil biasa, dengan motor ninja atau sport biar dianggap keren ya biasa. Kan yang susah itu bukan
mengendarainya tapi belinya, dengan sepeda perjuangannya jadi luar biasa. Seperti
memperjuangkan hati seorang wanita yang kita sukai. Mencari kepuasaan batin. Capek
sih memang tapi suka. Ketika keringat banyak yang keluar dan nafas yang
ngos-ngosan disanalah aku bisa tersenyum menikmati perjuangan dengan rasa yang
pernah ada.
“Ah !” menyenangkan.
Aku ingin suatu hari nanti ketika
prawed, aku buat dengan bertemakan “Cycling with Love. Only you bike and me, cukup
keren kan dengan buku nikah dan sebuah buku cinta yang aku tulis. Terdengar klise sih but if you seriously with what our keep, dream will become true.
Sampai Tajur, Ciawi sudah mulai
gerimis mungkin baru seperempat jalan yang memaksa aku untuk goes manja. Mengayuh
secara perlahan dan hati-hati. Ini dia nih yang buat seru kalau sepedahan itu. Jarak
jauh dan rintangannya itu hujan dan cuaca yang extreme bikin semangat buat nge-goes malah. Univ. Juanda, RSUD
Ciawi dan sampai dipertigaan jalan dekat Masjid Khulafatur Jannah kalau tidak
salah, menuju Cipaku-Cisarua. Waktu di dekat masjid hujan semakin deras aku
coba berteduh di SPBU sebelum masjid. Minum dan ke toilet. Di rasa sudah cukup
reda aku langsung melanjutkan lagi perjalanan. Di bawah guyuran hujan dan
tanjakan serta kendaraan yang cukup padat mempersulit laju sepeda. Aku harus
meng-goes pelan dengan menghemat tenaga karena perjalanan masih sangat jauh dan
ini belum masuk ke menu utama atau acara inti. Aku harus berebut jalan dengan
sepeda motor di tengah kemacetan. Aku tahu ini hari minggu, hari orang untuk berlibur.
Sama aku pun ingin berlibur seperti kalian bukan hanya harus sabar tapi juga
harus menguras energi untuk sampai ke tujuan.
Di daerah Gadog terus ke atas,
aku sempat berisirahat di sebuah minimarket untuk membeli minuman dan sedikit
mengganjal perutku dengan makanan. Duduk di luar sambil memandang guyuran hujan
yang membasahi jalan yang menanjak. Bunyi klakson dan suara mesin kendaraan
yang menggerung-gerung beserta antrian yang terlihat sesak. Menatap kosong, tenang
dingin dan menikmati suasana sesaat. Melihat hujan sudah mulai mereda aku
bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali tapi sebelum berangkat aku
sempatkan dulu pergi ke ATM untuk mengambil beberapa lembar persediaan takut
terjad hal yang tidak diinginkan. Soalnya di atas mana ada ATM. Selesai dari
situ langsung aku kayuh pedal dengan semangat agar cepat sampai di Masjid
Attawun. Perkiraanku, aku akan sampai di sana sekitar jam setengah dua atau jam
2an. Jangan sampai lewat dari waktu dzuhur.
Britania Market sampai perkebunan
teh pun sudah aku lewati. Udara sudah mulai dingin, hujan terus membasahi dan
mengguyur sepanjang jalan. Beberapa kali aku harus menghela nafas panjang untuk
tiap tanjakan yang ku lewati. Udara dingin sudah mulai keluar dari mulut tiap
kali aku bernafas. Seperti di Eropa. Dingin, Asap dan Kabut. Embun yang
menempel di tiap dedaunan. Semakin ke atas semakin berat. Aku di tuntut untuk
lebih wapada dan berhati-hati karena mendekati atas puncak dan masjid Atawun,
jalanan pun licin dan sudah di penuhi dengan kabut, sehingga aku tidak dapat
melihat jalan yang ada di depan karena terhalang oleh tebalnya kabut. Kini aku
di kelilingi oleh kabut disekitarku. Tanjakan dan belokan curam yang bisa
membuat hidupku berakhir di sini oleh kendaraan yang turun karena bisa jadi
mereka tidak dapat melihat sepeda yang sedang melaju, juga untuk naik ke atas
belum lagi bus-bus pariwisata yang tiba-tiba melewatiku. Aku ini ikan teri
diantara paus-paus yang bergerak, sedikit saja salah maka tak segan-segan aku
tersambar oleh bus-bus tersebut. aku berhenti untuk mengambil Light Stick di dalam tas. Menepi, dan
memegangnya di tangan kiriku untuk memberikan tanda ada kendaraan yang sedang
melaju naik. Setidaknya mereka dapat melihat cahaya yang aku pegang. Yang berat
itu bukan rindu tapi tanjakan yang tak pernah putu-putus yang membuat aku putus
asa. Jadi aku kasih nama “tanjakan putus asa”. Air sudah mengalir dari atas ke
bawah entah itu air apa, apakah air hujan atau air pembuangan. Melihat warung
di pinggir jalan berasa ingin berhenti apalagi melihat pasangan yang lagi berdua-duaan,
dingin, di puncak, melihat mereka bersenda gurau di tengah udara yang dingin
dengan makanan dan minuman yang hangat. Ah ! Aku hanya bisa menelan ludah. Kalau
aku berhenti, aku akan telat sampai ke Attawun untuk shalat dzuhur. Bukan saatnya
melemah. Apapun yang terjadi aku terus maju ke depan dengan sisa-sisa tenaga
yang ada.
Alhamdulillah ! Sekitar jam 2 kurang
lebih dengan perjuangan, aku pun akhirnya sampai di Masjid, Attawun. Jangan tanya
bagaimana pemandangannya karena aku hanya melihat kabut sejauh mata memandang
di sekitarku. Hanya ada pohon dan orang yang nawarin villa hehe..Aku dorong
sepeda sampai parkiran dengan perut lapar, kedinginan, badan yang sudah gemetar
dan belum shalat. Bersyukur hanya itu yang ada dipikiran ku saat itu. Di sana
aku mandi dan bersiap untuk shalat dzuhur. Airnya dingin banget. Ini memang
bukan moment di mana aku bisa menikmati pemandangan atau suasana di puncak. Tidak
ada yang berubah sepertinya entahlah aku tidak begitu memperhatikannya. Bangunan
dan interiornya pun masih sama saat terakhir kali aku datang ke sini. Hanya sekarang
terhalang oleh kabut dan rintikan air hujan. Aku memang tidak kuat dengan
dingin, badanku mulai menggigil dan aku hanya menunggu datangnya waktu ashar. Kalau
aku keluar itu akan menambah keadaaan makin buruk. Aku gak mau sakit di sini,
ini jauh dan gak ada orang juga yang kenal dengan ku kalau aku jatuh sakit
nanti. Ini gak boleh sampai terjadi maka aku coba bertahan sampai waktu ashar. Selepas
shalat Ashar aku langsung mencari makanan yang bisa aku makan. Syaratnya murah,
berserat, dan Panas. Sambil berjalan ku lihat satu persatu. Okay akhirnya aku pilih
pengusaha gorengan. Aku pesan bakwan, lontong dan beberapa butir cabai yang aku
ambil. Makanan yang enak itu bumbunnya cuman satu yaitu laper. Kalau Allah gak
kasih laper mungkin tiap orang akan meremehkan tiap makanan yang mereka makan. Bakwan
sama lontongnya jadi nikmat banget, jangan tanya berapa banyak yang aku ambil
sampai yang tadinya mau makan yang lain seperti baso dan teman-temannya ga jadi
aku pesan karena sudah cukup dengan si bakwan berikut lontong yang super nikmat
itu.
Misiku kali ini selesai dengan
jarak 40 Km durasi 4 jam 23 menit, dengan tenaga yang sudah terisi, aku bersiap
untuk turun dan pulang. Surganya para biker itu ketika kita nemu turunan sejauh
mata memandang dan di situ aku merasa bahwa inilah kenikmatan dari sebuah
perjuangan. Aku bisa tersenyum dengan lepas. Bisa merasakan kemenangan dan
bersyukur. Rindu akan rumah. Rindu akan perjuangan. Rindu akan seseorang. Melewati
jalur yang sama tanpa harus mengayuh. Berteriak dan tersenyum. Menggerakan tangan
sebebas mungkin tanpa harus peduli dengan orang lain. Biarkan mereka dengan
kehidupannya, biarkan mereka dengan segala macam pikirannya dan biarkan mereka
dengan segala macam perkataannya toh aku tidak menyusahkan manusia yang lain,
kita sama-sama berlibur hanya berbeda cara. Dan disinilah kenapa aku cinta
dengan Kota Bogor, kota kelahiran, kota kenangan, kota cinta, dan kota hujan.
February 5, 2018.
Keesokan harinya aku mendengar
berita kalau di puncak telah terjadi bencana longsor dibeberapa titik dan aku
bersyukur kejadian itu tidak menimpa diriku. Selalu ada rahasia di balik
peristiwa yang terjadi. Mungkin Masjid Attawun itu harus dikembalikan kembali
fungsinya sebagai tempat ibadah. Tempat yang sakral dan bukan sebagai tempat
wisata. Tempat tabayun, tempat mensyukuri bahwa alam ini luas, bumi ini indah
untuk dinikmati dengan baik.







Komentar
Posting Komentar