MULIH KA LEMBUR

MULIH KA LEMBUR
(Pasir Gocap)



Bogor,January 28, 2018
Hay, guys ! Kali ini gua akan menceritakan keseruan kami dalam meng-eksplor tanjakan, jalan berbatu, sawah, pepohonan, perkebunan dan tak lupa juga yaitu essensi kerinduan akan alam. Ini adalah event lanjutan dari petualangan para pecinta rindu tanjakan. Ketika para pe-Down Hill lebih suka menurunkan sepedahnya maka kami lebih suka menaikan sepeda kami di atas puncak tertinggi dengan keringat dan kerja keras. “Pantang loading tanpa berjuang, pantang pulang tanpa menang”.

Minggu pagi masih terlihat cerah, mentari masih mendonasikan cahayanya untuk belahan Kota Bogor. kumpulan orang berbondong-bondong memadati Sempur. Berbagai macam orang berdatangan baik dengan berjalan kaki, bersepeda, maupun dengan kendaraan lainnya. Para komunitas mulai mem-plot-plotkan sudut area Kota Bogor untuk memperlihatkan eksistensi mereka. Bahu jalan sudah sesak dengan para muda-mudi, anak alay maupun keluarga cemara yang sama-sama ingin melakukan aktifitas di minggu pagi yang indah. Pinggiran jalan sempur hampir sudah dipenuhi parkiran motor dan mobil, salah satunya adalah mobil Om Muji yang mendapatkan jatah parkir yang cukup jauh dari lapangan sempur. Posisinya ada di dekat searah pinggiran sungai. Dari lapangan basket masih lurus lagi ke depan.

Sesampainya di sana, di tempat titik kumpul. Sudah ada Om uji dan Firman, Goeser Sejati yang tak kenal lelah menapaki kerinduan. Kalau kata kita “yang berat itu bukannya rindu, tapi tanjakan yang tak pernah putus-putus”. Ini debut pertama kalinya bersama Om uji. Mengganjilkan kita menjadi tiga Ksatria Goeser yang tangguh. “Don’t ever jugde the book from the cover, cause you never know the main book it’s more worth it than the outside”. Walaupun Om uji paling senior umurnya tapi jangan ragukan kekuatan fisiknya, Ksatria Depok ini memiliki prototype dari Gatot Kaca, you Know lah ! “Otot kawat tulang besi that’s what I mean ! dengan kekuatan otot kaki dan tangan yang sudah tersinkronisasi dengan baik, dilengkapi kekuatan lari dan endurance yang mempuni. Untuk the senior, it’s more than enough. So how about the other one, you mean the foreman? Or the navi(navigator)man, the little tough. Kalau Firman itu GPS berjalan kita, seorang navigator yang dilengkapi dengan kekuatan bertahan di alam, insting dan nostalgia kehidupan, ditambah kekuatan running dan endurance gowel yang unlimited. So that’s the short of profile our Knights. Sekitar setengah delapan kami pun siap untuk berangkat menuju petualangan kita, menuju alam yang luas membentang bertaburan kenikmatan Tuhan, dengan titik tujuan awal berada di kampung halamannya Firman, Leuwiliang, daerah Cibedug. Now we are going to the mountain.

Di tengah perjalanan ternyata cuaca berubah menjadi lebih adem dan akhirnya langit memberikan curahan hujannya kepada bumi. Ini menjadikan perjalanan menjadi lebih menantang lagi. Mulai dari Laladon, Dramaga menuju Cibanteng dan sampai pada Leuwiliang menuju kaki bukit pegunungan Himalaya, Ow..something mistake, maybe sometimes we’ll going there. Menuju kaki Gunung Salak. Banyak hal yang terjadi selama perjalanan, salah satunya adalah ketika sebuah mobil merah, City Car yang tidak kuat untuk menanjak menyebabkan kemacetan yang cukup panjang, rombongan mobil tersebut sampai harus keluar untuk membantu salah satu mobil yang tak sanggup untuk naik. Tapi pengalaman berkata lain untuk sekelas Om Uji, dengan jam terbang yang tinggi dan setting Drive yang lihai dapat melaju dengan lancar sampai atas. Tidak hanya itu saja kami sempat melihat sebuah truck yang terguling berada di pinggir jalan, mungkin truck tersebut lost control sehingga membuat supirnya harus membanting stir keluar jalur. Entahlah yang jelas mobilnya sudah terkapar di sana tak berdaya dengan muatan yang berhamburan. Pemandangan yang cukup tragis dan dramatis selama perjalanan, kami terus melaju dengan lancar sedangkan hujan mulai turun cukup lebat dengan pemandangan sawah dan pepohonan yang kuyup oleh air hujan, air yang mengalir dari atas pegunungan bercampur dengan tanah dan bebatuan, pemandangan kelapa sawit yang berjejer rapi dengan kokoh. Kalau kata Firman, pohon kepala sawit ini banyak menyerap air sehingga pernah suatu waktu daerah ini kekurangan air bersih, sampai mendatangkan bantuan air.


Sekitar pukul setengah sebelasan kami pun tiba di rumah Firman, kampung halaman di mana dia pernah dilahirkan. Ditemani rintik hujan yang semakin manja, kita pun memutuskan menunggu hujan sampai reda hingga Dzuhur tiba. Tidak lupa juga kita mengabadikan moment-moment penting kita selama di rumah Firman, mulai dari persiapan menyiapkan sepeda, costum Tugu to Tugu pun menjadi pilihan yang kita ambil sekarang dalam moment kali ini, bernilai precious tentunya, kita sempatkan  untuk makan cilok yang cukup besar bentuknya dengan suasana cukup dingin tapi hati tetap semangat untuk meneruskan goesan-goesan di atas pegunungan. Hingga dzuhur selesai rintik hujan tetap tidak berhenti, mentari tak ingin muncul, air berjatuhan dari langit, suara kambing bersahut-sahutan, udara dingin menusuk-nusuk persendian, angin berhembus mengusap-ngusap tubuh. Akhirnya kita pun memulai perjalanan menuju Pasir Gocap, pasir yang membawa kenangan juga mungkin untuk kali ini, bernostalgia.


Track yang menanjak sudah menghadang di depan, tidak hanya itu saja tetapi juga jalan yang licin dan berbatu, cukup sulit untuk mengayuh sepeda agar tetap stabil, beberapa kali kami terjatuh dan terpaksa harus mendorong sepeda. Bebatuan yang cukup besar, nafas yang terengah-engah dan keringat yang tersamar oleh air hujan. Menikmati pemandangan yang luar biasa dari atas gunung memang sangat menakjubkan. Hamparan sawah dan pepohonan sejauh mata memandang. Begitu indah ciptaan Tuhan membuat kita belajar untuk lebih menghargai apa itu alam. Betapa kecilnya kita serta betapa luasnya alam ini. Dunia itu jauh lebih indah hanya untuk memikirkan hal-hal yang kecil yang membuat hati kita menjadi marah, galau dan gelisah. Seharusnya kita tidak punya waktu hanya untuk memikirkan hal seperti itu.



Sesampainya di Pasir Gocap, kita sempatkan untuk istirahat, memakan perbekalan yang di bawa oleh Om Uji. Membuat video lari dan foto-foto the best moment pokoknya, bendera El-macho yang di bawa Firman membuktikan kita adalah cowok macho bukan cowok cucok, yuuk hahah..  di sana kita tidak hanya sendiri melainkan ada komunitas para pecinta motorcross yang hilir mudik menguji medan pegunungan yang menantang. Serasa di rasa cukup maka kita mulai melanjutkan perjalan kembali, tetapi pada waktu itu Firman kehilangan kacamata sepedanya, sempat kita mencarinya sebentar, tapi sayang kita tidak berhasil untuk menemukannya kembali. It’s soo bad, but we have to tough, just let it go because someday you’ll get better.

Di tengah perjalanan hujan cukup deras dan angin pegunungan yang bertiup cukup kencang. Dingin, kerasa dingin sekali, sampai badan menggigil. Untung kita sempat menemukan ada sebuah saung yang kosong. Menepi dan berteduh untuk sekedar menghangatkan badan, bercakap sana sini entahlah apa pun itu yang dibicarakan yang pasti menambah persaudaraan kita dan menanti hujan agak sedikit reda, sebenarnya sepedahan dengan cuaca ekstrim seperti ini sangat menantang dan mengasyikan, kita tidak merasa cape atau kepanasan tapi resikonya yang paling kecil aja deh gua ambil contohnya yaitu “masuk angin” haha... nanti kalau yang berat-berat yang ada kita ke-suges  hal yang negative, menjadikan diri kita nge-down gitu, that’s so pity kan. Di sana pun kita mengabadikan moment kembali dengan beberapa kali jepretan yang pastinya luar biasa atau biasa di luar.

Jaraknya memang tidak terlalu jauh untuk goesan kali ini tapi medan, tanjakan putus asa dan cuaca yang kurang bersahabat yang membuat perjalanan kali ini cukup berat dan menantang. If you wanna challenge, you should be proofed.

Kita pun siap kembali ke titik awal pertemuan, yaitu rumah Firman. Kali ini setelah menemukan tanjakan pasti akan ada turunan yag siap menanti dan itu adalah hal yang paling di tunggu-tunggu oleh para pecinta sepeda di mana pun berada apalagi untuk pe-downhill justru itulah yang mereka cari-cari dan tunggu. Dari pada mencari wanita yang tak kunjung datang maka kita mencari turunan yang membuat kita semangat untuk pulang. Di tengah perjalan pulang dengan turunan yang berbatu gua sempet kehilangan standar sepeda gua, gak kerasa sama sekali kalau standar gua kali ini lepas dari sepeda, sadarnya ketika kita berhenti di sebuah jembatan dekat sungai. Mungkin karena gua pakai Headset maka tidak terdengar suara jatuh dari sepeda. Yah sudahlah kalau begitu, bukankah kehilangan sesuatu itu hal yang wajar apalagi hanya standar saja yang hilang dan itu karena kondisi jalan juga yang cukup berbatu, kata siapa kalau turunan itu tidak cape, justru turunan yang panjang juga dapat beresiko cukup fatal jika tidak ada rem atau tergelincir kebawah dengan sangat kencang, belum lagi kita harus menahan tuas rem pada stang, itu yang membuat tangan menjadi sangat pegal dan keram. Menahan berat badan agar tidak terjerembab oleh grafitasi ditambah turunan yang tidak halus atau berbatu membuat sepeda menjadi tidak stabil. Di sana kita berhenti di sebuah sungai untuk memandikan sepeda masing-masing, menikmati air sungai yang megalir, tidak dalam sehingga membuat kita aman untuk bersih-bersih di sana. Di rasa cukup so we move again.


Sore menghinggap dan malam menjelang, maka dari itu kita bersiap untuk segera pulang. Setelah sampai di titik awal yaitu rumah Firman. Dengan sepeda yang kotor, badan capek, dingin dan perut cukup lapar. Kita segera pulang. Dengan badan yang cukup lelah tapi penuh kepuasan bahwa kita berhasil menaklukan Pasir Gocap, tanjakan dan cuaca. Ini bakalan menjadi moment yang tak akan terlupakan oleh kita. 

20.00 WIB kurang lebih. Sesampainya di sempur kita mengambil jalan masing-masing untuk pulang, Firman kembali kekosannya, Om uji ke Depok dan gua sendiri harus kembali menggoes sepeda untuk sampai ke Ciluar, kembali menikmati malam dan dinginnya Kota Bogor yang selalu memberikan kenangan dan catatan kehidupan buat gua. Hidup ini terlalu indah hanya untuk memikirkan hal-hal yang tidak penting dan menggangu pikiran, buang saja dan lupakan toh sesuatu yang indah dan baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, percayalah skenario Allah akan selalu lebih indah dari skenario kita. Jalani saja toh kita juga hanya pemeran bukan seorang sutradara, nikmati film ini dan lihatlah ketika saatnya tiba filmnya akan selalu indah untuk dilihat.

Chrisanstory        
            

         

Komentar

Postingan Populer