Aster dan Senja di ufuk Perancis
***
Perancis – Paris, September 2016. Bandara Charless De Gaulle
Bounjour, Madame ! Senja mulai tiba, aku harus cepat.
Bukan saatnya aku menghentikan langkah kakiku dengan sapaan Supir taksi tersebut.
“Bisa kau antarkan aku ke alamat ini”.
Dengan menyodorkan secarik kertas kepadanya. Ia mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum.
“Tak ada tempat yang tak aku ketahui, Mam”. “Kau bisa langsung naik, biar kopermu aku yang urus”.
“Merci beaucoup, Monsieur ”.
Aku pun masuk dan lantas berkata dari jendela taksi yang menghitam.
“Mademoiselle !” “Pardon, D’accod”.
Paris, di mana kota yang menjadi tujuan pencarian ku akan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Bagi sebagian orang mungkin mereka akan berkata tidak ada hal yang lebih penting selain keluarga, keluarga adalah essensi emosional dalam kehidupan. Ruh yang menggerakan jiwa kita untuk terus hidup dan kau tahu mungkin keluarga pula yang menyebabkan seseorang merasa tidak ingin hidup. Dan sekarang aku mencari kehidupan di dalam kota Paris.
Aku tahu pria tua yang berada dibelakang kemudi gendutnya itu melihatku dari kaca spion depannya. Sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu kepadaku tapi untuk saat ini aku tak lagi ingin berkata -kata dan beramah tamah dengan Pak Keith, sebuah nama yang terpampang di ID Card dashbord taxi. Dalam sebuah artikel yang pernah aku baca dalam beberapa tahun silam berjudul “No anglais for England” yang berarti, bahkan orang inggris pun yang notabene adalah tetangga Perancis, dituntut untuk dapat berbahasa Perancis jika datang ke Negaranya. Itulah mungkin penjabaran rasa nasionalisme dari negara tersebut. Ini akan menjadi sebuah kesulitan ketika aku hanya dapat berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris nantinya. Di sini tak hanya bahasa baru saja yang akan aku dapati tapi melainkan siapa diriku sebenarnya. Menatap kosong pada secarik kertas yang ku genggam. Udara di Perancis yang terasa dingin dengan suhu hampir mencapai 15o (derajat Celsius) dan begitu pun Negara-negara Eropa yang kini sedang mengalami musim gugur. Maka awal musim dingin pun siap di sambut oleh negara belahan bumi bagian barat.
***
Indonesia, Jakarta 1995
Aku adalah Aster Amelly Sinclair. Seorang Dokter Psikiater. Aku berasal dari keluarga yang berlatar belakang sosialis dan berpendidikan. Kedua orang tuaku adalah seorang dokter yang memiliki tugas untuk membantu setiap orang dalam dunia kesehatan, oleh sebab itu mereka memutuskan untuk menjadi relawan United Nation diberbagai negara. Sudah sejak kecil aku tak pernah merasakan kehangatan dan keutuhan yang disebut keluarga. Aku tidak pernah menyalahkan Profesi mereka. Aku pun tidak ingin menyalahkan Tuhan yang menitipkan ku pada keluarga ini. Tapi aku menyesali hidup diantara kesunyian dan keheningan rumah yang aku tinggali. Dinginnya tembok pun kadang tak sedingin suasana di rumah yang aku tinggali. Selama ini aku tinggal bersama dengan seorang nenek dan bibi yang sudah lama bekerja pada keluargaku, ia yang menyiapkan segala macam kebutuhanku. Mungkin merekalah yang memberikan sedikit keramaian di dalam heningnya kesunyian. Kehangatan yang tak selalu ku dapat dari kedua orangtuaku. Mereka dapat membantu orang lain tapi tidak dengan keluarganya sendiri.
Bibi pernah berkata kepadaku,
“Apakah kau ingin menjadi seorang dokter seperti mereka suatu hari nanti, Nak ?” Mengusap kepala dan mendekap tubuh Aster dengan cinta kasih layaknya seorang ibu kepada anaknya .Aku hanya menggelengkan kepala, “ Aku tahu, itu adalah pekerjaan yang sangat mulia Bi, tetapi....” dalam benak Aster selalu terbesit sebuah pertanyaan, penolakan dan pertentangan hati seorang anak kecil yang
dirundung kegelisahan. Mulutnya pun tak kuasa tuk meneruskan kalimat yang seharusnya mud2ah untuk diucapkan.
***
Akupun terperanjat, hampir saja aku terlontar dari tempat duduk, membangunkanku dari lamunan masa lalu oleh bunyi klakson yang cukup bising, melihat sebuah Mobil Renault hitam yang melaju dengan kencang diikuti oleh beberapa mobil polisi yang tak kalah gesitnya dengan mobil tersebut. Sirene terus meraung-raung hingga akhirnya menghilang dengan sendirinya. Dan suasana kota pun kembali tenang.
“Ah, come on, what is going on there?” umpatku pada keadaan yang baru saja terjadi.
“Take it easy mam, it’s sometimes happened in this city, and don’t worry about that”.
Sambil menolehkan kepalanya kebelakang dan tersenyum dengan kumis hitamnya yang terangkat. Pak Keith sepertinya mulai merisaukan tentang diriku dengan melirik dari kaca sepion depan.
“Mademoiselle, sepertinya ada yang mengganggu pikiran mu? ada yang bisa ku bantu?”
“Non sirr, Merci!!” sambil mengangkat kedua bahu. Melipat tangan dan menoleh kembali menatap tiap sudut jalanan Kota Paris dengan pikiran yang terus mengawang.
Percakapan yang membuat udara di perancis jauh lebih dingin dari biasanya, dan langit yang
membentang luas disepanjang Kota Colmar dengan burung camar yang berterbangan beriringan bersama
awan yang menggumpal bak kapas yang melayang-layang.
Yah!! Semua memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sejak hari itu, lukisan dan “GADIS” itu.
“Apakah Louvre Museum menurunkan standarnya? Sepertinya tempat ini sudah tidak cocok untukku”
Baiklah, saatnya untuk pergi.
“Haah! Bukankah lukisan ini sangat indah? Hmm...benar-benar menggambarkan apa itu kebahagiaan. Sebuah
karya seni tentang keluarga yang sempurna.”
“Sempurna...?”
“Maaf, anda dari Indonesia?”
“Kau sebut ini sempurna? Kau yakin ini sempurna?! Apakah kau benar-benar mengerti tentang seni?”
“Kurasa tidak ada yang salah tentang pemahamanku akan seni.”
“Apakah kau pernah belajar seni?! Siapakah orang yang mengajarkanmu tentang seni?! Ah... aku berani
bertaruh gurumu itu memiliki selera sama buruknya denganmu.”
Riquewihr adalah sebuah kota kecil di Alsace, France. Sekitar 11 km dari kota Colmar yang masih
sangat terjaga keotentikannya, dengan bangunan-bangunan tua abad pertengahan ke 16 kota ini merupakan
jalur Alsatian Vineyard Route yaitu jalur perkebunan anggur di Perancis. Di mana ketika kita berjalan
menelusuri jalan itu maka kita akan meilhat bangunan- bangunan dan ornamen yang menghiasi indahnya desa.
Warna –warna dan bangunan kuno lainnya dan lantas terhubung dengan desa -desa lain tentunya yang tak
kalah jauh dengan keindahannya. Tidak hanya itu kita dapat sekaligus berwisata Anggur dengan....
Bersambung.. chrisanstory
Perancis – Paris, September 2016. Bandara Charless De Gaulle
Bounjour, Madame ! Senja mulai tiba, aku harus cepat.
Bukan saatnya aku menghentikan langkah kakiku dengan sapaan Supir taksi tersebut.
“Bisa kau antarkan aku ke alamat ini”.
Dengan menyodorkan secarik kertas kepadanya. Ia mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum.
“Tak ada tempat yang tak aku ketahui, Mam”. “Kau bisa langsung naik, biar kopermu aku yang urus”.
“Merci beaucoup, Monsieur ”.
Aku pun masuk dan lantas berkata dari jendela taksi yang menghitam.
“Mademoiselle !” “Pardon, D’accod”.
Paris, di mana kota yang menjadi tujuan pencarian ku akan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku. Bagi sebagian orang mungkin mereka akan berkata tidak ada hal yang lebih penting selain keluarga, keluarga adalah essensi emosional dalam kehidupan. Ruh yang menggerakan jiwa kita untuk terus hidup dan kau tahu mungkin keluarga pula yang menyebabkan seseorang merasa tidak ingin hidup. Dan sekarang aku mencari kehidupan di dalam kota Paris.
Aku tahu pria tua yang berada dibelakang kemudi gendutnya itu melihatku dari kaca spion depannya. Sepertinya dia ingin menanyakan sesuatu kepadaku tapi untuk saat ini aku tak lagi ingin berkata -kata dan beramah tamah dengan Pak Keith, sebuah nama yang terpampang di ID Card dashbord taxi. Dalam sebuah artikel yang pernah aku baca dalam beberapa tahun silam berjudul “No anglais for England” yang berarti, bahkan orang inggris pun yang notabene adalah tetangga Perancis, dituntut untuk dapat berbahasa Perancis jika datang ke Negaranya. Itulah mungkin penjabaran rasa nasionalisme dari negara tersebut. Ini akan menjadi sebuah kesulitan ketika aku hanya dapat berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris nantinya. Di sini tak hanya bahasa baru saja yang akan aku dapati tapi melainkan siapa diriku sebenarnya. Menatap kosong pada secarik kertas yang ku genggam. Udara di Perancis yang terasa dingin dengan suhu hampir mencapai 15o (derajat Celsius) dan begitu pun Negara-negara Eropa yang kini sedang mengalami musim gugur. Maka awal musim dingin pun siap di sambut oleh negara belahan bumi bagian barat.
***
Indonesia, Jakarta 1995
Aku adalah Aster Amelly Sinclair. Seorang Dokter Psikiater. Aku berasal dari keluarga yang berlatar belakang sosialis dan berpendidikan. Kedua orang tuaku adalah seorang dokter yang memiliki tugas untuk membantu setiap orang dalam dunia kesehatan, oleh sebab itu mereka memutuskan untuk menjadi relawan United Nation diberbagai negara. Sudah sejak kecil aku tak pernah merasakan kehangatan dan keutuhan yang disebut keluarga. Aku tidak pernah menyalahkan Profesi mereka. Aku pun tidak ingin menyalahkan Tuhan yang menitipkan ku pada keluarga ini. Tapi aku menyesali hidup diantara kesunyian dan keheningan rumah yang aku tinggali. Dinginnya tembok pun kadang tak sedingin suasana di rumah yang aku tinggali. Selama ini aku tinggal bersama dengan seorang nenek dan bibi yang sudah lama bekerja pada keluargaku, ia yang menyiapkan segala macam kebutuhanku. Mungkin merekalah yang memberikan sedikit keramaian di dalam heningnya kesunyian. Kehangatan yang tak selalu ku dapat dari kedua orangtuaku. Mereka dapat membantu orang lain tapi tidak dengan keluarganya sendiri.
Bibi pernah berkata kepadaku,
“Apakah kau ingin menjadi seorang dokter seperti mereka suatu hari nanti, Nak ?” Mengusap kepala dan mendekap tubuh Aster dengan cinta kasih layaknya seorang ibu kepada anaknya .Aku hanya menggelengkan kepala, “ Aku tahu, itu adalah pekerjaan yang sangat mulia Bi, tetapi....” dalam benak Aster selalu terbesit sebuah pertanyaan, penolakan dan pertentangan hati seorang anak kecil yang
dirundung kegelisahan. Mulutnya pun tak kuasa tuk meneruskan kalimat yang seharusnya mud2ah untuk diucapkan.
***
Akupun terperanjat, hampir saja aku terlontar dari tempat duduk, membangunkanku dari lamunan masa lalu oleh bunyi klakson yang cukup bising, melihat sebuah Mobil Renault hitam yang melaju dengan kencang diikuti oleh beberapa mobil polisi yang tak kalah gesitnya dengan mobil tersebut. Sirene terus meraung-raung hingga akhirnya menghilang dengan sendirinya. Dan suasana kota pun kembali tenang.
“Ah, come on, what is going on there?” umpatku pada keadaan yang baru saja terjadi.
“Take it easy mam, it’s sometimes happened in this city, and don’t worry about that”.
Sambil menolehkan kepalanya kebelakang dan tersenyum dengan kumis hitamnya yang terangkat. Pak Keith sepertinya mulai merisaukan tentang diriku dengan melirik dari kaca sepion depan.
“Mademoiselle, sepertinya ada yang mengganggu pikiran mu? ada yang bisa ku bantu?”
“Non sirr, Merci!!” sambil mengangkat kedua bahu. Melipat tangan dan menoleh kembali menatap tiap sudut jalanan Kota Paris dengan pikiran yang terus mengawang.
Percakapan yang membuat udara di perancis jauh lebih dingin dari biasanya, dan langit yang
membentang luas disepanjang Kota Colmar dengan burung camar yang berterbangan beriringan bersama
awan yang menggumpal bak kapas yang melayang-layang.
Yah!! Semua memang tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sejak hari itu, lukisan dan “GADIS” itu.
“Apakah Louvre Museum menurunkan standarnya? Sepertinya tempat ini sudah tidak cocok untukku”
Baiklah, saatnya untuk pergi.
“Haah! Bukankah lukisan ini sangat indah? Hmm...benar-benar menggambarkan apa itu kebahagiaan. Sebuah
karya seni tentang keluarga yang sempurna.”
“Sempurna...?”
“Maaf, anda dari Indonesia?”
“Kau sebut ini sempurna? Kau yakin ini sempurna?! Apakah kau benar-benar mengerti tentang seni?”
“Kurasa tidak ada yang salah tentang pemahamanku akan seni.”
“Apakah kau pernah belajar seni?! Siapakah orang yang mengajarkanmu tentang seni?! Ah... aku berani
bertaruh gurumu itu memiliki selera sama buruknya denganmu.”
Riquewihr adalah sebuah kota kecil di Alsace, France. Sekitar 11 km dari kota Colmar yang masih
sangat terjaga keotentikannya, dengan bangunan-bangunan tua abad pertengahan ke 16 kota ini merupakan
jalur Alsatian Vineyard Route yaitu jalur perkebunan anggur di Perancis. Di mana ketika kita berjalan
menelusuri jalan itu maka kita akan meilhat bangunan- bangunan dan ornamen yang menghiasi indahnya desa.
Warna –warna dan bangunan kuno lainnya dan lantas terhubung dengan desa -desa lain tentunya yang tak
kalah jauh dengan keindahannya. Tidak hanya itu kita dapat sekaligus berwisata Anggur dengan....
Bersambung.. chrisanstory


Komentar
Posting Komentar