ONE LITTRE OF TEARS(CHRISAN)

ONE LITTRE OF TEARS(CHRISAN)



Tidak mudah menyerah dalam kehidupan. Jika saya dilahirkan kembali saya ingin hidup seribu tahun lagi. Bunga sakura yang berguguran pada musim panas, natsu. merekah kembali di musim semi, haru. Membawa ketenangan, keindahan dan mimpi-mimpi hidup. Gadis jepang yang memiliki mimpi besar menjadi seorang dokter. Saya memang sakit tapi saya pun dokter yang menyembuhkan keputusasaan bagi orang lain yang mengalami. Ketika orang lain memandang sinis kepada saya dengan keadaan maka saya pun akan berdiri dengan kedua kaki saya yang lumpuh. Berdiskusi dengan hati. Memaknai dengan jiwa. Aku memang lumpuh tapi tahukah bu? Aku pun tidak pernah berhenti untuk berjuang. Aku pun tak ingin menangis. Karna sudah cukup dengan ibu menangis berlinang air mata. Karna masih ada orang yang menyayangi di sekitarku. Terima kasih bu, engkau sudah berjuang untuk ku. Engkau sudah menjaga ku. Engkau sudah limpahkan kasih sayangmu untuk aku. Engkau bahkan tidak malu dengan keadaan anakmu ini. Biarlah bu kini aku yang berjuang pula untuk orang lain layaknya engkau berjuang untuk anakmu. Aya ne, kalau Tuhan mengijinkan maka biarlah aku yang menggantikan penderitaan anakku. Selama cintamu ada padaku, itu kekuatan bagi ku. Bu, aku ingin berlari. Bu, aku ingin mengejar mimpi. Bu, aku ingin terus tersenyum. Bu, aku ingin menikah dengan laki-laki yang aku cintai. Aku ingin menjadi gadis yang cantik dan ceria seperti ibu. Tapi maafkan aku ibu sekarang engkau menjadi wanita yang sedu dan berlinang air mata. Tiap aku menatap mata mu menjelang tidur, ada cinta dan kasih sayang serta ketakutan pada ibu. Bu, jangan lupakan aku hingga akhirnya kelak aku beristirahat selamanya. Aku tahu air mata ini tak akan pernah habis, begitu pun ibu. Jika aku bisa aku ingin hidup seribu tahun lagi. Memelukmu dan tersenyum kepadamu.

Sapporo, Jepang. Andai jalan ini tak berujung. Rindang pohon sakura. Kicauan burung  musim semi. Orang yang berlalu-lalang. Hembusan angin yang menerpa tubuh ku yang mulai kaku. Hanya tersenyum ku melewati jalan ini. Langkah demi langkah. Hati ini mulai berbicara. Bisakah aku melewati jalan ini lagi... memandang
foto ku dan ayah. Yang selalu tegar, sekeras batu karang yang di terjang. Ayah, sudah cukup yah, sampai sini saja...bukan kah kau harus bekerja. Aku tahu ia kuat dan tegar di hadapanku tapi hati mu, ayah. Meneteskan air mata. Gadisnya yang cantik dan  kebanggaan sekarang harus merengkuh mimpi-mimpi sang gadis cantik dan ceria. Yah, aku ingin engkau yang mendampingi ku di saat pernikahan. Yah, aku ingin foto kelulusanku denganmu. Aku ingin habiskan takoyaki kepunyaan ayah. Aku ingin melewati jalan ini di Sapporo saat bunga sakura bersemi kembali. Teladanmu menjadikan engkau ayah yang hebat. Tersenyum. Tertawa. Bahkan menangis ketika kau pun tak kuat menahannya. Gomen nasai otousan, Arigatou Mina. Ee.. okasan doumo arigataou gozaimasu . memnadang langit yang terus berputar.

Hari-hari ku lalui, kini keadaan ku hampir memburuk. Penyakit regenerasi sumsum tulang belakang sedikit demi sedikit mematikan fungsi organ tubuhku. Kehilangan konsentrasi. Membuyarkan titik fokus. Merusak sistem syaraf. Tak dapat berjalan dan berbicara. Kelak tubuh ku hanya akan terbaring. Melawan penyakit yang belum ada obatnya. Tubuhku terbaring tapi tidak dengan jiwa ku yang mengitari bumi. Mengingat-ngingat kembali memory diriku, ibu, ayah, Hiroshi, Nakayami, sahabatku dan perjuangan hidupku selama ini. Aku ingin merasakan tetesan hujan. Aku ingin merasakan asap dan debu. Aku ingin ke Tokyo dengan Shinkansen. Hokkaido, Hiroshima, Osaka...Aku ingin bersepeda dan merasakan jatuh kembali. Menangis, dan hanya dapat menangis yang kulakukan sekarang. Ingin ku berteriak memaki-maki Tuhan. Kenapa harus aku....kenapa Engkau memilih aku...

Sangatsu kokonoka, hari dimana perpisahanku dengan mereka. Cita-cita mulia mu ibu menjadi motivasi diriku untuk membagi cerita dan pengalaman kepada orang lain yang bernasib sama dengan diriku. Hingga tangan ku tak dapat lagi menulis. Hingga kaki ku pun tak lagi dapat berjalan. Hingga mulutku pun tak lagi dapat berbicara. Setiap diary yang ku tulis sepanjang hidupku. Menceritakan hal-hal yang ku alami. Ibu, ayah dan keluargaku yang terus menjaga ku. Mereka bahu-membahu menolong walaupun dengan dihiasi linangan air mata. Maafkan aku ibu, Yukata pemberianmu belum sempat ku kenakan. Tapi ia selalu bermimpi kelak aku dapat mengenakannya. Berdiri dan tersenyum.

Kini setelah 5 tahun kepergianku. Ibu, engkau masih datang ke pemakamanku. Tak lupa bunga sakura yang kau bawa. Kini kau tak hanya menangis. Kini engkau pun dapat tersenyum bangga karna anakmu dapat menolong orang yang senasib dengan mu. Lewat tulisan mu kini mereka memiliki semangat juang untuk hidup. Tersenyum dan berkata Arigatou Aya ne....

Satu liter air mata pun tak mengapa...      



Komentar

Postingan Populer